Destruksi Kreatif Untuk Sebuah Nasion

Max Lane, penterjemah Tetralogi Pramoedya Ananta Toer. Tulisannya tentang Indonesia dapat ditemukan berbagai jurnal. Bule yang menulis tentang Indonesia. Bukan sesuatu yang baru, tetapi – untuk saya sendiri – sering menjadi sesuatu yang bikin miris. Terutama ketika setiap kata yang terucap menjadi seperti sebuah mantra yang segera diamini. Mei lalu, Max Lane meluncurkan buku “Bangsa Yang Belum Selesai: Indonesia Sebelum dan Sesudah Soeharto”. Kalimat itu tercetak pada halaman muka buku, ditulis dengan warna kuning berlatarbelakang hitam. Sangat jelas terlihat. Bangsa dalam artian apa? Belum selesai dilihat darimana?

Wilayah bersama.
Bahasa bersama.
Kehidupan ekonomi bersama/ berintegrasi.
Watak psikologis/ kebudayaan bersama.

Itulah kata-kata yang ditulis Max Lane di depan kurang-lebih 20 orang peserta diskusi sejarah yang diadakan oleh Pantau, Selasa 28 Agustus 2007 yang lalu. Empat ciri yang membentuk nasion (Max Lane lebih sering memakai kata nasion -dengan s bukan t- untuk mebahasakan bangsa).

Max Lane berupaya menyampaikan bahwa konsep nasion bukan konsep yang sudah ada berabad-abad. Konsep baru. Konsep yang muncul di abad 20, pada saat kapitalisme muncul. Nasion sebagai satu jaminan terhadap kemampuan berurusan dengan nasion lain. Nasion bukan jaminan kemakmuran.

Indonesia sebagai sebuah nasion, ada atau tidak? Judul buku memberi jawaban ada, tetapi belum selesai.

Berbalut kemeja coklat dan celana pantalon yang juga berwarna coklat, Max Lane bercerita tentang pendapat yang menyatakan bahwa Belanda merupakan pihak yang berperan dalam pembentukan Indonesia sebagai sebuah nasion. Sebuah pendapat yang disanggah oleh Max Lane. Pendapat tersebut kurang tepat. Peran Belanda terbatas pada penetapan wilayah bersama -satu dari empat ciri nasion- yang berhubungan dengan penetapan wilayah penjajahan antara Belanda dan Inggris, Spanyol dan Portugis. Tidak lebih dari itu. Tidak ada peran (Belanda) apapun pada 3 ciri lain. Bahasa bersama, kehidupan perekonomian bersama, dan watak psikologis/ kebudayaan bersama. Apakah Indonesia punya kebersamaan dalam hal-hal tersebut?

Max Lane bercerita sekilas mengenai nasion lain. Perancis, Inggris, Amerika dan Jepang, adalah beberapa diantaranya. Pembentukan nasion yang dilakukan melalui perjuangan melawan kolonialisme yang kemudian membentuk kebudayaan baru. Sebutlah Revolusi Perancis yang terjadi antara tahun 1789-1799 yang merupakan masa penting dalam sejarah Perancis dan Revolusi Amerika di tahun 1775 sampai 1783 yang juga dikenal sebagai Perang Kemerdekaan itu. Seperti ditulis di makalahnya “…revolusinya sampai tuntas merombak masyarakatnya dan melahirkan proses kebangsaan.”

Revolusi dengan dua sifat penting bahwa revolusi memutarbalikan susunan kekuasaan yang ada sebelumnya dan dalam proses memutarbalikan tersebut terjadi pembentukan sesuatu yang baru yang tidak ada sebelumnya.

Destruktif kreatif!

Merusak untuk membentuk sesuatu yang baru, secara kreatif. Berarti bukan sekedar merubah bentuk. Bukan sekedar “re-formed”. Ada yang baru, yang sebelumnya tidak ada.

Jadi, ada wilayah Indonesia dan Bahasa Indonesia. Setidaknya, aku bisa melihat peta dengan batas-batas Indonesia sebagai sebuah negara. Untuk bahasa, saat ini aku menulis dalam Bahasa Indonesia.

Lalu, apakah ada yang namanya perekonomian Indonesia?
Bagaimana juga dengan watak Indonesia, seperti apa watak psikologis/ kebudayaan Indonesia?

Tentu saja, diskusi sejarah ini tidak bermaksud menjawab pertanyaan tersebut, walaupun aku tetap menyesalkan bahwa diskusi bukan saja berhenti begitu mendadak, tetapi juga tanpa ada satu kesimpulan atau pertanyaan tertentu. Dan memang, menurutku, bukan Max Lane yang harus menjawab pertanyaan tersebut (tiga paragraf terakhir dalam makalahnya merupakan kesimpulannya untuk menyelesaikan pembentukan nasion). Tetapi itu bukan pertanyaan retoris yang tidak harus dijawab, justru -menurutku- itu adalah pertanyaan penting yang harus dijawab oleh setiap orang yang mengaku bagian dari “kebersamaan” sebuah Indonesia sebagai sebuah nasion.

*ya, aku masih harus membaca buku itu, tuntas*

Advertisements

Leave a comment

Filed under Setelah Kelas

Menulis Untuk Mengubah

Seorang Fadjroel Rachman dengan tenang namun tegas berkata bahwa ia menulis untuk mengubah.Tidak heran kalau kemudian Fadjroel bilang ia memilih tema tulisan yang punya dampak langsung ke masyarakat.

Ah, selamat tinggal tulisan-tulisan tidak penting di blog, yang seringkali berisi curhat, atau sekedar rangkaian kegiatan yang dilakukan sepanjang hari, dan bahkan tidak jarang tulisan itu tidak punya makna apapun selain di-upload karena ingin di-upload. Padahal, kalau aku mau menulis seperti seorang Fadjroel Rachman, berarti tulisan itu harus punya makna, kesan, dan menjadi pendorong terhadap satu perubahan

Itu, lagi-lagi, kalau aku mau menulis seperti seorang Fadjroel Rachman menulis.

Tulisan itu punya argumentasi, berisi statistik yang menguatkan, dilengkapi dengan testimoni dan ditulis dengan gaya, ini lagi-lagi pendapat Fadjroel. Menulis musti mikir! Ada strategi. Diutak-atik supaya apa yang ingin disampaikan bisa diterima dengan benar dan juga menarik. Tulisan itu kemudian membawa gagasan dari otak si penulis ke pembacanya.

Gagasan yang bergerak. Menurut Fadjroel (seperti yang dikemukakan Sudjatmoko kepadanya), gagasan itu punya kaki.

Aku langsung membayangkan satu sosok menyerupai manusia dengan kepala yang berisi ide, berlari lincah dengan kaki yang panjang. Kaki, memungkinkan kita semua bergerak dari satu titik ke titik lain (walaupun di jaman sekarang, tanpa kakipun kita bisa melakukan itu). Kaki identik dengan bergerak. Gagasan berkaki, gagasan bergerak.

Aku teringat keponakanku yang baru belajar berjalan. Umurnya 9 bulan. Kami semua bilang, ia belum berjalan, masih tata-tata. Jalan tertatih-tatih, dibantu oleh orang dewasa. Sampai nanti, kakinya cukup kuat dan mampu berkoordinasi dengan baik, dan keponakanku itu bisa berjalan dengan sempurna.

Aku pikir, menulis gagasanpun melewati tahap itu. Tahap tata-tata. Harus belajar dan berlatih, terus menerus. Berlatih berargumentasi. Berlatih menulis data statistik dengan menarik. Berlatih menempatkan kutipan yang tepat. Berlatih menulis dengan gaya sendiri.

Fadjroel melatih menulis melalui tulisan orang lain yang dia ikuti berkali-kali, sampai kemudian ia menemukan style sendiri. Fadjroel membaca begitu banyak buku dan karya sastra yang kemudian mempengaruhi tulisannya. Fadjroel tidak segan menggubah judul karya sastra atau film untuk menarik perhatian penulisnya. Itu adalah gaya Fadjroel, yang sudah tentu tidak ditemukan sehari dua hari, kan?

Oya, Fadjroel membaca keras-keras tulisan yang ia buat. Ini membuat dia mengetahui apakah tulisan tersebut perlu diperbaiki atau tidak, enak dibaca atau masih harus diperbaiki. Sayangnya, aku saat ini ada di kantor, kalau aku harus membaca tulisan ini keras-keras, teman-teman satu ruanganku akan dengan senang hati menimpuki aku dengan apapun supaya aku diam.

Kalau kamu, bagaimana kamu menentukan tulisanmu masih harus diperbaiki atau sudah selesai dan bisa dipergunakan sebagai alat untuk mengubah?

3 Comments

Filed under Dari Kelas

Gaya Priyayi Gay Talese

IT WAS NOT quite spring, the silent season before the search for salmon, and the old fishermen of San Francisco were either painting their boats or repairing their nets along the pier or sitting in the sun talking quietly among themselves, watching the tourists come and go, and smiling, now, as a pretty girl paused to take their picture.”

Kalimat pembuka The Silence Season of A Hero, sebuah essay Gay Talese, bercerita tentang DiMaggio, pemain baseball terkenal Amerika. Andreas memuji kalimat pembuka ini. Aku juga terkesima. Padahal, kalimat itu panjang sekali. Ada 60 kata. Untuk satu kalimat.

Memang, tulisan Gay penuh dengan tulisan panjang. Tapi tidak melelahkan.

Mengejutkan, ketika Gay bercerita tentang dirinya sendiri. Waktu itu, ia mencoba mewawancara DiMagio. “When the man entered the restaurant from the side steps leading to the dining room, he saw DiMaggio standing near the window, talking with an elderly maître d’ named Charles Friscia. Not wanting to walk in and risk intrusion, the man asked one of DiMaggio’s nephews to inform Joe of his presence. When DiMaggio got the message, he quickly turned and left Friscia and disappeared through an exit leading down to the kitchen.” The man adalah Gay Talese. Ia membiarkan dirinya menjadi bagian dari cerita, dengan begitu anggun, berkelas, layaknya priyayi.

Gay, adalah orang yang memaparkan DiMaggio dimata seorang Zio Pepe dengan lagnuso, lazy, meschino, good-for-nothing. Tanpa italic, tanpa tanda petik. Mempergunakan bahasa Itali dan Inggris bersamaan. Keduanya saling menjelaskan.

Permainan kata, permainan tanda baca, permainan spasi, adalah sedikit dari permainan Gay Talese yang bisa ditengok dari tulisan ini.

Gay Talese yang pengamat, bertemu DiMaggio di pagi hari, Gay menuliskan “Picking up the morning paper, not rushing to the sports page, DiMaggio read the front-page news, the people problems of 1966; Kwame Nkrumah was overthrown in Ghana, students were burning their draft cards (DiMaggio shook his head), the flu epidemic was spreading through the whole state of California. Then he flipped inside through the gossip columns, thankful they did not have him in there today – they had printed an item about his dating “an electrifying airline hostess” not long ago, and they also spotted him at dinner with Dori Lane, “the frantic frugger” in Whisky à Go Go’s glass cage – and then he turned to the sports page and read a story about how the injured Mickey Mantle may never regain his form.” Sebuah profil yang menurutku begitu manusiawi, dan sangat personal. Membaca koran dengan tenang biasa dilakukan di rumah, sambil menikmati sarapan pagi. Gay Talese kemungkinan besar diterima dengan baik, sampai bisa menemani DiMaggio menikmati korannya. Jam 8 pagi, seorang DiMaggio sudah bertemu penulis Gay Talese.

Buat aku, bisa jadi seorang Gay Talese bukan saja seorang yang piawai menggambarkan profil, tetapi jagoan dalam menaklukan hati profil tersebut.

Tidak heran, kalau Gay Talese berhasil bercerita tentang mawar merah DiMaggio yang kemudian menjadi hit besar itu. Iya, bunga segar yang diletakkan di makam Marylin Monroe, mantan istri yang sebetulnya nyaris kembali menjadi istri DiMaggio, kalau bukan karena kematian. Bunga segar yang menjadikan tulisan ini begitu terkenal. Bunga segar yang selalu ada di makam, setiap pagi, tidak absen, sampai hari terakhir sebelum kematian DiMaggio sendiri, lebih dari dua puluh tahun kemudian!

Gay Talese

Aku, sering mengintip kolom profil di beberapa surat kabar. Kompas, Jakarta Post. Juga teringat profil kepala daerah yang pernah aku baca. Profil penulis di halaman belakang buku. Profil tokoh-tokoh penting yang dibukukan. Semua aku baca. Hanya satu kali. Dengan sedikit sekali “karakter” yang aku ingat, tentang profil itu.

 

Gay Talese, membuat aku mengingat DiMaggio, lebih dari yang aku ingin ketahui.

Leave a comment

Filed under Dari Kelas

Kapuściński: Foto, Perang dan Ide Tulisan

Ada dua tulisan yang harus aku baca. Shah of Shahs dan The Soccer War. Aku membaca yang pertama. Tidak ada pertimbangan apapun. Karena Shah of Shahs terletak di depan dari tumpukan tulisan itu. Begitu sampai di akhir tulisan, aku dapati nama Ryzard Kapuściński. Lebih lanjut ditulis “Translated, from the Polish, by William R. Brand and Katarzyna Mroczkowska-Brand. This the first part of a two-part article.”

Ah, aku sudah nyaris meninggalkan tulisan kedua. Maksudku, tadinya tulisan kedua akan aku baca besok hari. Begitu tahu pengarangnya orang Polandia, aku langsung mengontak seorang sahabat. Penasaran. Ingin tahu, siapa sih Ryzard Kapuściński (walaupun, tulisan tugas kelas Narasi pasti terjamin).

Paweł Zimnicki, seorang arsitek, orang Polandia, tinggal di Szeczin, dekat dengan Berlin menjawab, “Everybody knows him. He was the greatest correspondent and one of the best writers of non-fiction literature. Diad this year. I can recommended every book he wrote.” Waktu aku tanya lebih jauh, tentang dua tulisan yang menjadi pekerjaan rumah, ia bilang,”Regarding two stories he made, both of them are great”.

Hasrat meneruskan bacaan jadi lebih tinggi. Sebetulnya, aku penasaran dengan bahasa aslinya. Aku ingin sekali mengetahui bagaimana Ryszard Kapuściński memakai bahasa. Sayangnya pengetahuanku untuk bahasa Polandia terbatas pada bilangan dan beberapa kalimat salam dan permintaan tolong. Sisanya, aku harus bilang, nie rozumiem, aku tidak mengerti.

Untungnya, tulisan sudah diterjemahkan. Jadi aku bisa mengerti apa yang disampaikan oleh Kapuściński. Bahkan tulisan kedua menjadi jauh lebih menarik buat aku, lagi-lagi karena seorang kawan, seorang Honduras, yang sayang sekali belum membalas smsku sampai sekarang.

Shah of Shahs agak sulit aku ikuti. Awalnya. Lama-lama, aku terkesima. Kapuściński bercerita melalui foto-foto (dan catatan percakapan). Bercerita berbekal foto. Foto. Dokumentasi visual. Konon, gambar bisa berbicara seribu kata. Tapi cobalah untuk menuliskan ulang sebuah foto, sulit bisa menjadi seribu kata. Barangkali sepuluh kata lebih tepat. Setidaknya, itu kalau aku yang disuruh bercerita. Ia menulis dari foto yang paling pertama ia terima. Itu adalah foto seorang prajurit yang memegang ranti di tangan kanannya dan seorang lelaki di ujung rantai satunya. Begitu selanjutnya, setiap bagian selalu dimulai dari foto. Bahkan, dia bisa memakai foto yang tersebar luas saat itu. Foto Stalin, Roosevelt dan Churchill duduk di sebuah beranda. Mengherankan bagaimana foto itu kemudian bisa membawa cerita ke kekaguman Shah terhadap Hitler. Bahkan ketika tidak ada foto, ia tetap bisa memaparkan kondisi yang ada. Seperti ketika ia berbicara tentang Ayatollah Khomeini. Foto figur yang satu ini, hanya menggambarkan Khomeini di usia lanjut, Kapuściński tidak pernah berhasil memperoleh foto Khomeini di usia muda.

Butuh pengetahuan untuk bisa menginterpretasi foto. Seperti ketika Kapuściński diperlihatkan foto sekelompok orang yang berdiri di tempat pemberhentian bus di sebuah jalan di Teheran. Awalnya, Kapuscinski tidak melihat sesuatu yang aneh dari foto itu. Sampai ketika pria yang memberi foto tersebut bercerita bahwa foto itu diambil secara sembunyi-sembunyi, takut ketahuan SAVAK, polisi rahasia Shah. Kehadirannya sulit dideteksi, dan itu membuat ketakutan terhadap SAVAK menjadi bertambah besar. SAVAK bahkan bisa saja menjadikan anak umur 3 tahun masuk penjara!

Tulisan kedua, The Soccer War, lebih mudah aku mengerti, walaupun bingung sebetulnya kapan tulisan ini berakhir. Mudah-mudahan hanya karena kesalahan dalam memperbanyak tulisan. Soalnya ada 3 tulisan, yang pertama berjudul The Soccer War, kemudian Victoriano Gomez on TV dan terakhir sebuah tulisan High Time Continued, or The Plan of The Next Unwritten Book, Etc.

Tulisan pertama, bercerita tentang peperangan antara Honduras dan El Savador yang disebabkan oleh pertandingan bola. Intuisi seorang Luis Suarez, membuat Kapuściński berada di Honduras pada waktu kondisi semakin memburuk. Menjadi wartawan asing pertama yang mengabarkan langsung kejadian tersebut.

Aku membaca kisah peperangan ini dengan trenyuh. Terutama ketika Kapuściński menulis “He was a recruit, a dirt farmer; he had been called up a week ago, he didn’t know the army; the war meant nothing to him. He was trying to figure out how to survive it.”

Bukan hanya penyebab peperangan yang tampak begitu konyol dibandingkan apa yang terjadi dengan kasus shah, tetapi juga miris dengan 6000 orang yang harus mati sia-sia. Huh, sepak bola, memang bukan sekedar permainan olahraga!

Sebetulnya, aku malah tertarik dengan tulisan terakhir (tulisan kedua, membuat aku bergidik). Dia bisa menulis dari kata. Silence. Spirits. Hierarchy. Locked Up. Fortress. State Visit. Life. Apakah ini ide-ide untuk tulisan-tulisan baru? Aku hanya menebak-nebak. Membaca bagian ini seperti baca blog. Tapi rasanya saat itu belum ada blog (aku tidak tahu kapan tulisan ini dibuat). Barangkali seharusnya ini yang aku lakukan untuk tulisan panjangku.

Ah, membaca tulisan Kapuściński tidak bisa sekali jadi. Aku musti beberapa kali bolak-balik baca ulang. Kata-kata yang tidak terlalu mudah. Cara menulis yang tidak biasa (kecuali The Soccer War). Tapi, kok ya membuat rasa penasaran.

Tidak apa-apa, aku akan membaca lagi tulisan-tulisan ini. Seperti kata Paweł, “Have a nice reading.” Ah, ya. Pasti. Pasti.

2 Comments

Filed under Dari Kelas

Daoed JOESOEF Bertutur

Pertemuan itu sudah berlangsung lebih dari satu minggu yang lalu. Seorang bapak, seorang ibu dan serombongan tamu, peserta kursus narasi baik yang baru maupun kursus yang lalu.

Sabtu siang itu, kursus dilakukan di waktu yang berbeda, di tempat yang berbeda. Kali ini, sebuah rumah yang luas dan sangat asri di selatan Jakarta. Teras belakang yang merupakan tempat bekerja, sudah dirapikan menjadi tempat pertemuan sekitar 20 orang. Kursi-kursi diatur mengelilingi ruangan tersebut, dengan dua meja di tengah-tengah. Sabtu itu cerah, cenderung panas malah. Tidak ada AC di ruangan itu, hanya ada tiga kipas angin. Di pojok, sebuah meja disiapkan sebagai tempat menaruh makanan. Setumpuk makanan kotak dari Hoka Hoka Bento yang sudah dipersiapkan Mba Fiqoh, kue coklat, kacang mete dari Kendari dan siomay bikinan Hagi ditempatkan di atas meja.

Masih bercerita tentang tulisan dan juga orang yang membuat tulisan itu. Kali ini, langsung berhadapan dengan penulis Emak, sebuah buku yang menggambarkan kearifan dan kebijaksanaan seorang ibu. Daoed JOESOEF penulis yang menjadi tuan rumah.

Berbicara dengan Pak Daoed, seperti bicara dengan “orang-orang dulu”. Waktu ditanya Andreas apa kesanku terhadap Pak Daoed, aku harus mengambil waktu dan berkata,”disiplin.”

Disiplin dalam segala hal, hal kecil, hal besar, dan terutama disiplin dalam menguraikan isi kepala. Bertutur. Ini ajaran Emak,”Jangan bertutur terlalu cepat, nanti terucapkan hal-hal yang belum kau pikirkan. Kau boleh mengatakan semua, tetapi ucapkanlah itu dengan teratur dan dengan bahasa yang jelas (halaman 92).” Pak Daoed sempat mengulang perkataan ini dalam bincang-bincang kami siang itu.

Ini kelemahan terbesarku. Kalau berbicara, aku bisa loncat topik sesukaku. Detik ini bicara tentang makanan, detik kemudian berbicara tentang pesawat. Gak nyambung. Pernah ada seseorang mengkritik aku untuk itu, dan tidak aku perdulikan. Tokh, teman-temanku sudah tahu gaya bicaraku, itu pembelaanku.

Terkadang, ketika terlalu bersemangat, mulut terasa lambat bergerak. Jauh lebih lambat dari isi kepala. Saat seperti itu, aku ingin sekali bisa menumpahkan semua sekali jadi. Lepas. “Nih, baca dan lihat sendiri,” barangkali itu yang ingin aku lakukan untuk bercerita.

Tapi tidak untuk Pak Daoed. Dua jam lebih dihabiskan oleh Pak Daoed untuk bertutur. Tentang banyak hal. Tentang buku. Tentang emak. Tentang Perancis. Tentang keluarga. Tentang rumah. Tentang pendidikan. Tentang banyak hal. Semua diungkapkan dengan penuturan yang disiplin, yaitu dengan teratur, jelas, dan sangat runtut.

Aku pikir, Pak Daoed orang yang bisa jadi sangat puitis, punya jiwa seni yang kuat, dan peka terhadap keindahan, dan punya kemampuan untuk merayu! Jangan berpikir buruk, karena aku pikir itu justru sesuatu yang indah. Aku pikir, laki-laki sebayaku bisa mati gaya dan kalah kata kalau harus bertarung dengan Pak Daoed untuk urusan itu. Tidak sekelas. Sangat jauh berbeda bahkan.

Ini yang membuat diskusi banyak diisi oleh gelak tawa. Juga respek! Ya, pertemuanku membuat aku menjadi sangat hormat padanya. Walaupun ada beberapa pemikiran dan tindakannya yang bisa jadi tidak aku sepakati, Pak Daoed bukan orang yang mengharamkan diskusi, proses dialektis dari berbagai pemikiran, yang berbeda sekalipun. Pak Daoed tegas, tapi bukan tanpa alasan. Tentunya, dengan bertutur.

Aku menemukan keindahan bahasa ibuku dalam Emak. Bahasa Indonesia, yang menurut Pak Daoed,”bahasa yang feminin.” Aku menemukan keindahan bertutur melalui Pak Daoed.

Seperti ditulis pada halaman ix buku Emak, Daoed JOESOEF memang orang Indonesia pertama yang oleh Sorbonne dianugerahi gelar doktor tertinggi dari jenisnya yaitu Doctorat d’Etat atau doktor negara, dan dengan cum laude pula (Ini menjadi cerita lucu tersendiri, karena gelar beliau itu doktorandus – ada lebih dari satu gelar doktor – tapi di Indonesia gelar itu diberikan untuk strata S1, dan karena itu Pak Daoed lebih sering tidak menuliskan doktorandus). Tetapi, sosok itu menjadi begitu “kaya” bukan karena gelar semata, tetapi karena cinta dan kasih seorang Emak.

Ini satu foto dari sekian banyak foto yang bisa dilihat di http://www.flickr.com/photos/narasipantau/

Kelas Narasi di Rumah Daoed JOESOEF

 

1 Comment

Filed under Dari Kelas

Emak Seorang Daoed JOESOEF

Buku itu tidak lagi ada di tanganku. Emak,  ditulis oleh Daoed JOESOEF. Hagi bilang dia mau tanya soal penulisan nama belakang yang pakai huruf besar itu. Nenden menuliskan “kereeeeen super kereeen” sebagai tanggapan dia atas buku itu. Kalau aku, ada sejumlah hal yang ingin aku katakan. Antara lain bahwa aku turut mengagumi emak dan belajar banyak dari emak.

Karena itu, buku itu tidak ada lagi di tanganku, aku memutuskan untuk membagi kisah ini dengan seorang dosen di Kendari, bapak dari seorang anak perempuan yang duduk di kelas 5 SD, suami dari seorang guru. Di halaman depan aku tulis bahwa buku itu untuk Aulia, anak perempuan itu.

Buku ini memang layak dibagikan. Bukan saja bagi mereka yang mengagumi seorang perempuan dalam jabatan sebagai ibu, emak, bunda, indung, mama, mami tetapi lebih lagi, bagi mereka yang mau dan rindu untuk terus belajar menjadi lebih baik lewat berbagai hal yang terjadi dalam hidup.

Buku ini jelas bukan buku yang tepat dibawa ke keramaian. Bukan buku yang tepat dibawa di perjalanan, di tengah pesawat atau kereta api. Bukan karena akan mengakibatkan perut mual selama perjalanan, tapi karena hampir di setiap lembarnya membuat air mata ingin sekali keluar. Dan, butuh kekuatan ekstra untuk membendung air mata di tengah orang banyak.

Aku memang lebih menyukai buku ini, ketimbang penggalan cerita tentang Daoed JOESOEF dan Monsieur Courazier. Buat aku, Emak memperlihatkan Daoed JOESOEF sebagai seorang anak, dan Monsier Courazier memperlihatkan Daoed JOESOEF sebagai aparat pemerintah.

Emak bercerita tentang manusia, oleh manusia dan untuk manusia yang semua dilahirkan dari rahim seorang ibu. Ditulis dalam bahasa Indonesia yang begitu santun tapi juga kuat, ditambah beberapa bahasa Belanda dan Inggris, memperkaya buku ini. Bahasa asing tidak ditulis untuk sekedar gaya-gayaan tetapi memberi konteks yang lebih kuat dan gambaran tentang si penulis. Bahasa asing yang dipergunakan, tidak melupakan aturan pakai.

Ilustrasi buatan Daoed JOESOEF sendiri menghiasi beberapa lembar halaman buku. Gambarnya halus. Mengingatkan aku dengan buku cerita anak-anak Tini dan Tono yang berwarna. Punya kelembutan yang khas dalam setiap guratan pensilnya. Mengingatkan aku pada buku pelajaran di sekolah dasar, di awal tahun 80-an. Emak, adalah tokoh yang selalu muncul dalam ilustrasi itu tentunya. Dan perhatikanlah, bagaimana Emak selalu menjadi perempuan paling cantik di dalam ilustrasi-ilustrasi yang ada di buku. Wajahnya selalu memancarkan kecantikan, kegembiraan dan kebijakan. Emak yang paling cantik, digambar sedang menaiki sepeda, sambil memakai pakaian Eropa. Rok panjang dan blus.

Tapi tanpa gambar itu, membaca buku ini membuat aku merasa mengenal Emak. Halaman awal, menjadi salam pembuka dari Emak, perkenalan aku dengan Emak. Begitu membaca, aku seperti diajak berjalan-jalan berpegangan tangan dengan Emak, sambil mendengarkan Emak berbicara. Emak tersenyum, dan penuh kasih, sorot mata yang tajam dan kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya ingin sekali bisa aku pegang terus, tidak aku lepaskan.

Buku ini mengingatkan aku kepada Ompungku. Tidak bersekolah, ia bertekad akan membuat seluruh anak bisa bersekolah, bahkan anak perempuan sekalipun. Ompung mengirimkan ayahku sejak SMP ke Pematang Siantar, dan bahkan kemudian dibiarkan melanjutkan SMA dan masa remaja di Bogor. Salah seorang anak perempuannya, bibiku, bahkan berhasil menyelesaikan pendidikan lanjutan. Visi seorang perempuan cerdas. Sampai usia lanjut, Ompung mampu mengalahkan aku untuk masalah hitung menghitung. Ompung berpulang ketika aku berada ribuan kilometer dari tanah tercinta. Percakapan terakhir kami, terjadi beberapa saat sebelum aku meneruskan sekolah melintasi benua, ditutup dengan permintaan Ompung,”Kau belikanlah dulu aku ini susu, ya pahompu

Aku juga teringat Emak yang lain, yang hanya sekejap sempat aku kenal. Hidup untuk suami dan anak, dengan penuh cinta. Tidak lekas marah, dan justru selalu menjadikan setiap kejadian besar sebagai kejadian kecil, dan justru kejadian kecil sebagai kejadian besar. Seorang emak yang juga guru yang tidak pernah berhenti belajar dan mengajar. Bukan hanya di bangku sekolah, tetapi bahkan setelah pensiun, di dalam kehidupan sehari-hari. Emak yang mengajarkan aku menjadi jauh lebih menghargai ibuku sendiri. Emak yang menyerah pada stroke yang menyerang di Juni 2005. Sampai saat ini, aku masih terus merindukannya, merindukan percakapan kami, merindukan perjalanan kami, merindukan semua tentangnya.

Itu yang terjadi dengan membaca Emak. Buku yang mampu membuat seseorang melihat ke sekeliling, kepada emak-emak yang ada di sekitarnya. Ompung bagiku. Mungkin bahkan ia muncul dalam wujud seorang ayah bagi yang lain. “Emak” yang membentuk kita, yang kaya akan kebijaksanaan dan kecerdasan yang tak lekang oleh waktu.

Aku sepakat, Emak adalah ibu yang filosofis, bukan dari bangku sekolah, bukan dari pendidikan formal, tetapi dari kejernihan hati dan ketajaman pikiran untuk melihat sekitar, dan mengambil pelajaran. Tuhan sudah menyediakan semua bagi kita, untuk menjadi bekal melangkah.

Terimakasih Pak Daoed atas Emak.

2 Comments

Filed under Dari Kelas

Sabang

Minggu ini, aku punya pekerjaan rumah untuk membaca “Republik Indonesia Kilometer Nol” karya Andreas Harsono, “Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan” karya Alfian Hamzah, “Panglima, Cuak, dan RBT” dan “Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft” karya Chik Rini, dan “Orang-orang Di Tiro” karya Linda Christanty.

Semua berbicara tentag Aceh dari berbagai sudut dan cara bercerita. Karya Chik Rini “Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft” sudah kubaca jauh-jauh hari, sewaktu aku membaca buku Jurnalisme Sastrawi, berbarengan dengan “Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan” karya Alfian Hamzah. Keduanya, bercerita banyak tentang Aceh sewaktu menjadi daerah operasi militer. Banyak bercerita tentang bentrokan GAM dan TNI. Peristiwa yang diceritakan Chik Rini diketahui secara umum, karena menyangkut wartawan media televisi, sedangkan Alfian Hamzah lebih banyak bercerita tentang suka duka tentara Indonesia di Aceh.

Tiga cerita lain aku baca selama seminggu ini. Masih tentang Aceh. Terkait dengan konflik yang terjadi selama tahunan di Serambi Mekah tersebut. Hanya ketika membaca “Republik Indonesia Kilometer Nol” aku teringat dengan Banda Aceh sebagai tempat tinggal selama sementara waktu, sekitar satu tahun yang lalu.

Ya, persis setahun lalu, aku sempat tinggal di Banda Aceh untuk beberapa waktu. Apa yang aku alami disana, berbeda dengan Alfian. Juga berbeda dengan Chik Rini, Linda dan Andreas, walaupun sebetulnya kondisi yang mereka tulis sangat berpengaruh dengan situasi di pertengahan 2006 itu. Ceritaku saat itu malah lebih banyak mengenai berbagai tempat makan di Banda Aceh. Tsunami, telah membuat beberapa hal berbeda, walaupun tidak berarti masalah selesai. Justru, ada beragam masalah baru yang muncul.

Tapi aku ingin sekali bercerita tentang sesuatu yang berbeda. Tentang Sabang, yang memukau hati aku. Ya, tulisan Andreas membuat aku mengenang kunjungan singkatku ke Sabang.

Setelah tsunami, di saat ada begitu banyak orang dari berbagai tempat di pelosok bumi berkumpul di Banda Aceh, maka Sabang bagi mereka yang ada di Banda Aceh adalah seperti Bandung bagi orang Jakarta.

Setidaknya, itu yang aku rasakan

Begitu datang di Banda Aceh, banyak orang yang aku temui mendorong aku ke Sabang. Karena,”tanggung, Mel, udah sampe sini kok gak ke Sabang,” belum lagi iming-iming,”disana menyenangkan gak kayak di sini (Banda Aceh),” dan terakhir tentu saja dorongan untuk mengunjungi Kilometer Nol.

Semuanya sebetulnya tidak membuat aku ngotot ke Sabang. Entah kenapa, tidak ada keinginan menggebu untuk melihat kilometer nol.

Itu pikirku.

Diam-diam ke Sabang

Tapi aku tetap berangkat. Dengan rencana agak mendadak. Dengan agak sembunyi-sembunyi. Saat itu, aku butuh beristirahat. Aku sakit, diduga typhus, yang muncul dengan dugaan penyebab kebiasaan begadang dan makan tidak teratur tentunya. Sebagai orang yang biasa mendengar,”Mba gak pusing, tekanan darahnya hanya 90/60,” tentu saja kaget tidak kepalang waktu dikasih tahu bahwa kali itu tekanan darahku menjadi 130. Hmmm, beban perkerjaan yang tinggal 2 minggu sebelum berakhir? Bisa jadi.

Alasan butuh menyegarkan jiwa raga di saat tuntutan laporan sedang kencang-kencangnya menjadi alasan yang kuat untuk pergi ke Sabang. Tidak terlalu direncanakan, karena rencana terbaik untuk perjalanan ke Sabang adalah tanpa rencana.

Sebetulnya bukan tanpa rencana sama sekali, karena sehari sebelum rencana keberangkatan, yaitu hari Jumat, aku meminta supir dan kendaraan untuk berangkat duluan ke Sabang. Ini tips dari teman-teman yang sudah lebih lama tinggal disana. Maklum, perjalanan Banda Aceh – Sabang bisa ditempuh dengan dua kapal. Kapal pertama adalah kapal cepat yang berangkat beberapa kali dalam sehari, tapi tanpa kendaraan. Kapal kedua, hanya berangkat satu kali sehari, kapal lambat yang membawa kendaraan.

Sejak ke Sabang menjadi salah satu kegiatan akhir pekan favorit para pekerja tsunami di Banda Aceh, sering sekali banyak mobil yang tidak bisa diangkut. Permintaan lebih besar daripada kemampuan membawa mobil. Bisa dibayangkan, kan! Belum lagi kalau ambil contoh mobil yang umum dipakai saat itu adalah mobil 4wheel, begitu istilahnya, untuk menggambarkan mobil-mobil besar, dengan roda besar yang tahan dengan banyak kondisi topografi dan jalanan hancur.

Alasan kedua kenapa aku tetap pergi kesana adalah iming-iming snorkelling dari beberapa teman. Membayangkanya membuat aku cukup nekad meninggalkan Banda Aceh dengan tumpukan pekerjaan untuk sejenak menghirup udara Sabang.

Hampir saja tidak jadi, waktu Bang Ramadan, supir kami, melapor kalau antrian sudah super panjang dan dia tidak dapat tempat di kapal laut Jumat sore ini. Sedih sekali. Tapi malam hari kami putuskan, tidak apa-apa. Bang Ramadan akan menyusul di Sabtu siang, dan kita bisa bertemu Bang Ramdan sore-sore Sabtu di kota.

Kami memutuskan itu, aku dan boss aku, Pak Ramli, Mba Okol, Mba Uli, Mas Aji, dan satu kawan lagi.

Sabtu pagi itu, kami harus bergegas ke pelabuhan karena Bang Ramadan harus mengantri sepagi mungkin. Bayangkan jam 8.30 kami sudah di pelabuhan, padahal Iwing, temanku yang lain, sudah bilang jadwal kapal jam 9.30 bukan jam 8.30. Iwing benar. Kami menghabiskan waktu di pelabuhan, melihat berbagai orang yang datang mengantri tiket ke Sabang.

Aku mencoba mengidentifikasi, mana pegawai BRR, mana pegawai NGO luar Aceh, mana orang yang pertama ke Sabang, mana yang memang orang Sabang yang pulang ke rumah setelah seminggu bekerja di Banda Aceh.

Kelompok BRR umumnya datang dalam jumlah besar, sebagian besar rombongan adalah orang dari Jakarta. Rambut mereka berwarna-warni, coklat terang dan burgundy adalah warna  yang paling menonjol. Jangan heran, kalau aku bisa melihat warna rambut, karena tidak ada jilbab yang dipakai, kalaupun ada, selendang itu hanya diselempangkan. Jaga-jaga kalau ada polisi syariah barangkali. Belum lagi kacamata hitam besar, istilahku “kacamata segede bagong” bertengger di mata atau kepala mereka. Lengkap dengan sendal pantai yang cantik. Betul-betul pemandangan turis pantai.

Kelompok bule-bule NGO sudah kelihatan dari warna kulit mereka. Palingan bisa dibedakan yang sudah biasa ke Sabang dan yang baru pertama kali. Bule ini diantar supir dan tentu saja sudah ditunggu supir lain di seberang sana. Seragamnya juga mirip, celana selutut dengan baju kaos berlengan pendek. Ya, mereka punya sedikit kemewahan berpakaian, karena bisa berpakaian sedikit lebih terbuka dibandingkan orang-orang lokal.

Kelompok selanjutnya pekerja-pekerja seperti aku, datang dari berbagai lembaga yang begitu banyak jumlahnya di Banda Aceh. Ada yang datang dengan kendaraan roda empat berstiker nama lembaga, dan sedikit yang datang dengan angkutan umum atau kendaraan tanpa stiker. Aksen bicara dan pakaian tetap menjadi penanda bahwa aku bukan penduduk tetap Banda Aceh.

Kelompok terakhir adalah penduduk. Penampilannya berbeda. Datang bisa dengan motor becak, tapi juga ada juga yang datang dengan mobil berstriker. Stiker nama kantor mereka. Berarti mereka kerja di organisasi non-pemerintah.

Sabang, aku datang!
Kesan pertamaku, Sabang daerah perbukitan yang tenang.

Kesan kemudian setelah aku tiba di kota, Sabang menyenangkan. Sangat menyenangkan

Aku memulai perjalanan di kota, dan bukan ke Gapang, tempat favorit kunjungan para pekerja tsunami. Dan, kota Sabang mencuri hatiku.

Bayangkan gunung, bukit yang tinggi. Jalan kota yang naik turun karena topografinya. Jalan aspal yang mulus. Dengan pepohonan di kiri kanan, dan pemandangan teluk Sabang menyempil di sela-sela dedaunan. Pemandangan yang sudah dimulai setelah melewati pelabuhan. Air laut kebiruan mengintip dari sela-sela bukit-bukit. Angin semilir berhembus, agak hangat memang.

Begitu tiba di kota, rasanya begitu adem. Sungguh, tidak kalah dengan kota-kota kecil Eropa. Begitu tenang. Begitu damai. Berjalan kaki di pedestrian yang terawat, di kiri kanan jalan. Dari sebuah losmen kecil menuju ke pusat kota yang terletak lebih ke bawah. Losmen itu terletak di daerah cukup tinggi, perjalanan ke pusat kota terus menurun. Karena itu, aku dan teman-teman memutuskan untuk berjalan kaki saja. Menyenangkan sekali. Di satu titik, aku hanya ingin membaringkan tubuhku di rumput hijau yang segar itu, dengan langit dan dedaunan jauh di atas kepalaku, menjadi atapku.

Dan, pusat kota Sabang jauh lebih memukau. Ada satu ruas jalan dengan jajaran toko berderet rapi. Lantai trotoar dibuat dari ubin jaman dulu, yang berbentuk segi 5 berwarna abu-abu, atau terkadang hanya sekedar tegel abu-abu yang usianya lebih tua dari aku. Di beberapa lokasi, terdapat pohon yang membuat suasana teduh. Tidak terlalu bising karena tidak banyak kendaraan lalu lalang. Kemudian kami tahu, disini masih menganut istilah jam tidur siang. Tidak heran suasana siang itu relatif sepi.

Aku yang lapar memutuskan untuk makan disitu. Duduk di trotoar yang luas, di meja yang mampu menampung 8 orang yang lapar. Duduk sambil berfoto-foto. Turis banget.

Tidak terasa lebih dari satu jam kami habiskan disitu, tak lama ada kendaraan seorang teman datang menjemput. Kami bergegas. Gapang, menjadi tujuan selanjutnya.

Mengintip dunia bawah laut Gapang
Perjalanan kota ke Gapang memakan waktu lebih dari 1 jam. Kami melewati gunung, jalan berliku dengan bukan hanya pohon yang kami lihat tetapi juga monyet. Itu daerah yang banyak ditinggali monyet. Sudah tahu turis rupanya. Monyet-monyet ini berharap mendapatkan kacang atau pisang yang memang dijual di pinggir jalan. Ada trik khusus yang harus diketahui, untuk menghindari monyet tersebut terus menerus mengikuti mobil.

Untunglah mereka tidak terus menerus mengikuti kendaraan yang kami tumpangi. Setidaknya kami sempat berhenti dan mengambil foto di satu tanjakan. Foto aku dan teman-teman dengan latar belakang Teluk Sabang. Sedikit mengingatkanku dengan Danau Toba, bedanya ini bukan danau tapi laut. Hijau, putih dan biru.

Kami juga sempat berhenti di satu warung. Membeli rujak dan minum. Enak! Lagi-lagi sambil disuguhi pemandangan laut. Warungnya sendiri sangat sederhana. Terletak di sebuah pengkolan, agak tinggi, dengan kayu sederhana. Cukuplah untuk menahan hujan. Kursi sedikit miring, meja sedikit miring. Konstruksi memang dibuat secara sederhana. Di sebuah sudut, ada sebuah foto Sabang di masa jaya. Saat itu banyak kapal dari luar Indonesia berlabuh disana. Foto itu hitam putih, diambil dari sudut yang hampir sama dengan lokasi aku duduk saat itu. Kalau tidak salah, ada angka 1926 di atas foto tersebut. Sayang, itu hanya satu-satunya foto dan kami tidak bisa membelinya.

Foto itu, seperti foto pelabuhan yang ramai yang sering diperlihatkan film-film Holywood. Rasanya sulit membayangkan bahwa Sabang pernah begitu ramai sekian puluh tahun yang lalu. Kapal besar itu tidak hanya ada satu atau dua, tapi banyak sekali. Pemuda berusia di akhir 20-an itu tidak bisa bercerita banyak tentang foto itu, ia hanya banyak tersenyum.

Tidak jauh dari situ, kami mampir ke sebuah danau air tawar yang sedikit tersembunyi. Tantangan untuk berenang menyeberang tidak ditanggapi. Aku hanya terdiam menikmati keheningan yang begitu syahdu. Matahari terik sekali, tapi angin sejuk bertiup di tempat itu. Mengajak aku untuk menari bersama angin.

Gapang
Masuk ke wilayah Gapang, ada dua daerah yang agak terpisah. Daerah yang lebih menjorok ke dalam diperuntukan untuk para bule. Khusus untuk snorkelling. Untuk pertama kali, di Aceh, aku bisa mempergunakan celana pendek dan kaos tank top. Dengan modal masker, aku mulai mengintip ke bawah air. Hanya seputaran Gapang. Dan, oh, indah sekali. Ikan berwarna-warni, dan berbagai mahluk air begitu banyak. Airnya jernih sehingga aku bisa dengan mudah melihat mahluk karya Tuhan di dalam air tersebut. Sayang, aku tidak bisa mengingat nama-namanya. Satu yang aku ingat, bulu babi, aku harus hindari yang satu itu.

Selama aku bermain disana, ada seorang perempuan yang begitu aktif dan ceria. Ia bersama anjing-anjingnya, menghampiri orang-orang yang duduk-duduk di pantai. Umurnya barangkali sudah lebih dari 60 tahun. Badannya kurus. Tapi senyumnya lebar dan menawan. Dia lebih banyak mengajak bicara para bule yang ada disana.

Waktu terlalu cepat berlalu. Magrib segera datang, dan kami memutuskan untuk segera ke kota. Aku melihat sebagian besar pengujung pantai menginap di bungalow di seputaran pantai. Memang, pilihan itu adalah pilihan umum. Terutama bagi mereka yang memang mengejar kegiatan diving dan snorkeling di Gapang.

Mie Pangsit
Di kota, kami memutuskan untuk makan mie pangsit yang sudah direkomendasikan oleh seorang kawan. Rasanya? Enaksekali. Mie kuning dengan sedikit kuah yang gurih, ditemani pangsit. Tidak ada baso. Tidak ada seledri atau bawang. Ringan. Membuat aku ingin tambah satu piring lagi. Dan, memang aku tambah satu piring lagi. Bukan itu saja, tawaran makan seafood dibatalkan karena perut kenyang, dan aku memutuskan untuk beristirahat. Teman-teman yang masih bersemangat, memilih ikut nonton bersama. Ada acara Piala Dunia yang disiarkan langsung di sebuah televisi lokal. Mereka, berkumpul semua disitu.

Sabang membuat aku bukan hanya kenyang karena mie pangsit, tapi juga segar kembali. Beneran, deh.

Ini yang aku tulis sewaktu aku di Gapang:

Gapang, Sabang, 11 Juni 2006
Jam 11.15 siang

Siang ini, aku di pantai di Gapang, Sabang, Pulau lokasi nol kilometer Republik Indonesia.

Lautnya hijau kebiruan. Ada berbagai warna menghiasi laut di depan mataku. Warna hijau bening, terus menjadi biru, Satu dua perahu nelayan tertambat, menunggu mereka yang berkeinginan snorkelling agak ke tengah lautan. Beberapa perahu baru saja datang dengan serombongan orang, yang mungkin sudah pergi sejak pagi tadi. Melihat matahari pagi barangkali. Karena saat ini, matahari mudah menunjukkan kekuasaannya. Panasnya menyengat.

Tetapi aku tidak takut kepanasan (makasih sunblock mba’e). Karena ada keteduhan dari pohon-pohon waru di sepanjang pantai, memberiku ketenangan, kedamaian. Angin semeliwir, mengusap rambut-rambut kecilku yang tidak mampu diikat oleh jepit rambut ini. Rasanya nikmat, membelai mukaku, badanku, lenganku, kakiku. Semuanya. Begitu indah.

Suara debur ombak yang datang bergantian, bagaikan ada komando yang membuat mereka datang satu satu sesuai gilirannya, kadang terdengar sayup, kadang terdengar garang. Bertalu-talu mengajak aku untuk segera menjejakkan kakiku ke airnya, menyelusuri lebih jauh karang-karang di baliknya. Snorkeling.

Tapi matahari masih terlalu terik. Aku masih lebih memilih untuk tiduran. Beralaskan pasir putih yang dingin. Yang tiap tiap butirannya mengelus setiap senti kulitku. Butir-butir kasarnya seakan dengan lembut melemaskan setiap persendianku. Melepaskan setiap ketegangan yang selama ini ada di seluruh sendiku. Memaksa aku melepas setiap bebanku. Keluar melalui genggaman pasir putih ini.

Aku menutup mata, menikmati semua. Air hijau kebiruan yang bening ini. Langit biru luas ini. Debur ombak ini. Angin semiliwir ini. Keteduhan ini. Pasir putih ini.

Aku menutup mata, memulai tombol “record”. Suatu saat, pasti akan kuputar kembali, untuk membawaku kembali ke ketenangan ini.

4 Comments

Filed under Dari Kelas