Category Archives: Setelah Kelas

Kerja (tak) paksa

Tulisan ini dibuat untuk media bersama, sebuah situs online, pada tahun 2007

Hari ini, 1 Mei 2007 adalah hari pekerja internasional. Dalam berbagai media, dikatakan sebagai hari buruh internasional.May Day. Hari Mei, jika diterjemahkan secara harafiah. Buruh. Kata yang (di)identik dengan mereka yang bekerja di pabrik, secara massal. Aku mengenal kata buruh, ketika aku melihat segerombolan orang berseragam biru berjalan kaki keluar dari sebuah pabrik di sekitaran Kabupaten Bandung. Laki-laki dan perempuan. Banyak sekali. Bikin macet. Angkutan umum berjejer menunggu sebagian dari gerombolan tersebut sebagai penumpang mereka. Seseorang berkatta kepadaku, mereka itu buruh, baru pulang shift pagi.

Hari ini, 1 Mei 2007 adalah hari pekerja internasional. Dalam berbagai media, dikatakan sebagai hari buruh internasional. May Day. Hari Mei, jika diterjemahkan secara harafiah.

Buruh. Kata yang (di)identik dengan mereka yang bekerja di pabrik, secara massal. Aku mengenal kata buruh, ketika aku melihat segerombolan orang berseragam biru berjalan kaki keluar dari sebuah pabrik di sekitaran Kabupaten Bandung. Laki-laki dan perempuan. Banyak sekali. Bikin macet. Angkutan umum berjejer menunggu sebagian dari gerombolan tersebut sebagai penumpang mereka. Seseorang berkata kepadaku, mereka itu buruh, baru pulang shift pagi.

Buruh adalah pekerja pabrik. Awalnya, itulah makna buruh buat aku. Menjadi buruh berarti bekerja 8 jam sehari, dibagi dalam 3 shift, memakai seragam, bekerja dalam lingkungan pabrik, tidak butuh pendidikan terlalu tinggi, setiap hari melakukan pekerjaan yang rutin dan berulang. Satu hal lagi, isyu upah minimum regional menjadi sesuatu yang sangat penting sebagai seorang buruh. Umum jika buruh dibayar tepat pada batas upah minimum, tidak jarang ada yang masih berada di bawah upah minimum.

“Untunglah, aku sudah sekolah tinggi, jadi aku tidak perlu jadi buruh”, itu ucapan seseorang kepadaku, ketika aku melakukan sebuah tugas sekolah, lagi-lagi di Kabupaten Bandung.

Betulkah, dengan sekolah tinggi, dia tidak perlu menjadi buruh, seperti orang tuanya?

1 Mei, dalam bahasa Inggris dikatakan sebagai “International Worker’s Day”. Worker. Dari kata work. Itu berarti pekerja. Itu berarti, ini adalah hari untuk semua pekerja. Semua orang yang bekerja.

Bekerja seperti apa? Apakah seseorang bekerja hanya ketika seseorang pergi ke sebuah pabrik, dengan seragam, dibayar pas dengan standar gaji yang ditentukan pemerintah? Bagaimana dengan mereka yang pergi ke sebuah gedung yang dinamakan kantor pagi-pagi buta, dan pulang tengah malam menuju bangunan yang disebut rumah? Apakah ketika kita menerima sejumlah uang atas apa yang kita lakukan dalam kurun waktu tertentu, berarti kita sudah bekerja?

Apa yang saat ini tengah kamu kerjakan? Menjadi pegawai negeri sipil? Karyawan perusahaan? Manajer operasional? Direktur? Pemilik perusahaan? Dosen? Dokter? Pendeta? Peneliti? Atau, bahkan pekerja sosial? Ketika seseorang bertanya, ”bekerja dimana?” bukankah kemungkinan besar kamu akan menjawab dengan salah satu dari sekian pilihan tersebut.

Bekerja. Mempergunakan waktu yang ada untuk melakukan sesuatu yang berguna baik untuk diri sendiri, dan lebih baik lagi kalau bisa berguna buat orang lain, dan lebih banyak orang. Berpikir dengan otak, digabung dengan beberapa pekerjaan otot.

Betapa bersyukur, orang yang bisa bekerja karena mereka mencintai apa yang dilakukan, dan bisa membuat bukan hanya hidupnya menjadi lebih baik tetapi hidup orang lain. Bekerja bukan semata-mata untuk memperoleh segenggam rupiah, mendapat kehormatan, atau bahkan sekedar menghabiskan waktu. Bekerja untuk berkarya. Membuat karya. Menciptakan karya.

Tapi, sebagian besar dari kita, mulai dari yang gaji di bawah standar sampai yang berpuluh-puluh kali lipat dari standar, terkukung dalam pekerjaan (dalam berbagai bentuk) bukan? Dan, tidak perduli dengan titel, kemegahan bangunan kantor, pendek-panjang deretan angka di slip gaji, kita adalah pekerja.

Selamat hari pekerja internasional. Kehidupan dan masa depan kaum pekerja, ada di tangan kaum pekerja sendiri, bukan?!

1 Comment

Filed under Setelah Kelas

Our Bodies, Ourselves. Sebuah resensi buku.

Ditulis oleh Mellyana Frederika
Kamis, 29 Januari 2009 07:00 untuk Media Bersama

Karakteristik kita–perempuan–sebagian besar berada di luar kontrol kita. Tetapi banyak diantara kita mengalami kesulitan untuk menerima tubuh kita, dan mengabiskan begitu banyak waktu serta uang untuk melawan alam. Bagi orang Amerika “perbaikan diri” jarang sekali diartikan sebagai usaha membangun karakteristik diri dan meningkatkan sumabangan kita bagi dunia, melainkan sebagai perbaikan penampilan luar kita. Banyak diantara kita percaya bahwa menjadi kurus atau melakukan face lift akan membuat kita menjadi lebih baik. Kita menghabiskan berjuta-juta dollar dengan harapan bisa mengubah diri kita dari luar kedalam.

Jika kita mau menghabiskan waktu dan uang untuk memperoleh kecantikan ideal yang tak mungkin, ada banyak korporasi dan profesional di dunia medis yang akan menolong kita mengupayakannya. Keinginan untuk tampak baik adalah hal yang normal. Sayangnya, majalah, industri kosmetik, dunia mode, dan industri diet dengan cepat mempropagandakan pandangan bawa kita harus mencapai kecantikan ideal agar menjadi perempuan berharga.

Melalui iklan yang terus menerus dan sejumlah artikel, mereka mendefinisikan apa yang disebut “penampilan” dan menjamin bahwa kita merasa tidak yakin dengan kemampuan untuk mencapai itu. Dunia kosmetik dan produk kecantikan menghasilkan USD 43 juta dalam setahun dan menghabiskan USD 1,5 juta untuk membuat iklan dari mewarnai rambut sampai menghilangkan selulit. Bagaimana jika kita tidak bisa memiliki penampilan yang tepat hanya dengan kosmetik dan diet saja? Tidak usah khawatir, operasi plastik tersedia bagi kita.

Sudah berakhir masa dimana televisi menampilkan “makeover” dengan mengganti penampilan seseorang melalui rambut, make up dan pakaian. Sekarang, seseorang akan diubah muka dan badannya secara permanen melalui operasi plastik tanpa ada diskusi tentang resiko kesehatan dan psikologisnya. Operasi plastik bukan hanya untuk si kaya, tetapi juga kelas menengah. Di Amerika Serikat 86 persen dari pasien mereka adalah perempuan. Untuk meraih ukuran ideal mistis 36-24-36 (nomor 10 di daerah dada, nomor 2 di pinggang dan 4 di pinggul) yang dipromosikan media, sebagian besar dari kita harus membutuhkan pisau untuk itu. Karena payudara sebagian besar tersusun dari lemak, perempuan kurus jarang memiliki payudara besar. Untuk mencapai “kurus berbentuk”—sesuatu yang tidak biasa—kita bukan saya harus membaut diri kita kelaparan—sebagaimana dilakukan bintang film, model dan penyanyi pop, kita juga perlu melakukan kombinasi antara sedot lemak dan pembesaran payudara.

Orang Amerika besar dengan keyakinan bahwa dengan kerja keras, semua bisa terjadi. Ide bahwa kita bisa merubah diri kita begitu kuat dan unik bagi Amerika, dan hal itu bisa membutakan kita bahwa seorang perempuan dengan tinggi 5’4” dan berat 150 ounds tidak akan pernah bisa mengubah dirinya menjadi 5’11”, 117 pound layaknya supermodel, bagaimanapun kerasnya dia mencoba.

Seringkali, kecantikan ideal yang didengungkan budaya kita adalah kecantikan ideal kulit putih.Di awal 1850-an, pemutihan kulit dan pelurusan rambut muncul di kalangan Afrika-Amerika sebagai jalan untuk memperoleh kehormatan dari kelompok kulit putih. Hari ini banyak imigran perempuan Meksiko di Amerika Serikat menderika keracunan merkuri akibat penggunaan krim pemutih kulit yang mengandung merkuri. Keracunan merkuri dapat menimbulkan kerusakan syaraf dan hati, dan juga kelainan psikiatri. Perempuan dengan kulit berwarna di seluruh dunia memakai krim serupa baik untuk memutihkan atau mengurangi bercak, dan mengancam kesehatan kita.

Walaupun sebagian besar dari kita menyadari bahwa kecantikan hanya di permukaan, tetapi sebagian besar kelompok masyarakat masih memperlakukan orang dengan kecantikan fisik secara berbeda. Penelitian-penelitian menunjukkan bahwa orang mengasumsikan perempuan dan laki-laki yang menarik adalah mereka yang memiliki daya tarik seks, mampu bersosialisasi, pintar dan memiliki pekerjaan dengan bayaran lebih baik dan kesempatan berkembang yang lebih banyak. Penelitian menunjukan bahwa guru di pendidikan dasar sering memberikan perlakukan khusus yang berbeda kepada anak-anak yang mereka nilai menarik, dan tahanan yang tampan kerap memperoleh hukuman yang lebih ringan.

Dengan bukti-bukti tersebut, anda akan berpikir bahwa orang akan berpikir mereka yang sangat menarik akan jauh lebih bahagia dibandingkan orang lain. Tetapi, beberapa hasil penelitian menunjukkan sebaliknya. Kebahagiaan tampaknya merupakan hasil dari hidup positif,kepercayaan diri yang tinggi, dan hubungan yang baik dengan sesama. Lebih menggangu lagi adalah hasil penelitian yang menyatakan bahwa perburuan terhadap kecantikan dapat menutupi masalah psikologi yang lebih dalam. Peneliti-peneliti Finlandia menemukan bahwa perempuan yang melakukan pembesaran payudara untuk alasan kosmetik memiliki kemungkinan bunuh diri tiga kali lebih banyak disbanding populasi umum.

Apa yang saya uraikan di atas adalah sebagian kecil tulisan dalam buku Our Body Ourselves (halaman 5 dan 7). Sebuah tulisan yang mengkritisi pencarian berlebihan yang dilakukan perempuan untuk mencapai apa yang dicitrakan media sebagai kecantikan ideal. Tulisan tersebut mencoba menyampaikan pesan bahwa kecantikan luar dimulai dari kecantikan dalam. Sesuatu yang diketahui semua orang dan dianggap klise, tetapi di tengah gencarnya iklan kosmetik dan kampanye kecantikan ideal yang tidak mungkin, banyak perempuan merasa bangga dengan tubuh yang dimilikinya.

Buku tersebut mencoba memberikan pengetahuan yang cukup lengkap bagi perempuan untuk lebih mengenal lebih jauh mengenai berbagai keunikan dirinya secara fisik maupun non-fisik.Buku ini memberikan fakta-fakta yang seringkali sulit diakses oleh banyak perempuan. Mulai dari menjaga diri sendiri, hubungan dengan sesama dan termasuk urusan seks, bicara mengenai pilihan reproduksi, menjadi ibu, menjadi tua, sampai rusan medis yang unik yang dialami oleh perempuan. Buku setebal kurang lebih 800 halaman itu memang pantas dijadikan rujukan dari waktu ke waktu.

Beberapa visualisasi dalam Our Body Ourselves bisa jadi membuat jengah banyak perempuan. Visualisasi gamblang yang justru sangat membantu perempuan untuk mengenali dirinya. Buku itu juga menyentuh hal-hal yang seringkali dianggap tabu jika dikaitkan dengan ajaran agama dan memuat kisah nyata dari banyak perempuan mengenai banyak hal, menjadi kesaksian yang berguna bagi banyak perempuan lain. Our Body Ourselves tidak berhenti pada penjelasan tentang kondisi fisik perempuan, tetapi juga meletakannya dalam konteks sosial, ekonomi dan budaya saat ini. Untuk ukuran Indonesia, harga buku Our Body Ourselves memang cukup mahal. Tetapi ada sedikit keberuntungan, karena seperti tertulis di halaman depan buku ini, ada potongan khusus bagi lembaga atau organisasi yang bergerak di bidang kesehatan perempuan. Sayang sekali buku tersebut belum diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Barangkali suatu waktu, ada yang tertarik menterjemahkannya dan menyusun ulang sambil meletakan konteks tulisan kedalam situasi sosial, ekonomi, budaya dan politik perempuan Indonesia?

Judul:Our Bodies, Ourselves
Penulis:The Boston Women’s Health
Penerbit:Brigham and Woman Hospital
ISBN0-7432-5611-5
Halaman :832

2 Comments

Filed under Setelah Kelas

Destruksi Kreatif Untuk Sebuah Nasion

Max Lane, penterjemah Tetralogi Pramoedya Ananta Toer. Tulisannya tentang Indonesia dapat ditemukan berbagai jurnal. Bule yang menulis tentang Indonesia. Bukan sesuatu yang baru, tetapi – untuk saya sendiri – sering menjadi sesuatu yang bikin miris. Terutama ketika setiap kata yang terucap menjadi seperti sebuah mantra yang segera diamini. Mei lalu, Max Lane meluncurkan buku “Bangsa Yang Belum Selesai: Indonesia Sebelum dan Sesudah Soeharto”. Kalimat itu tercetak pada halaman muka buku, ditulis dengan warna kuning berlatarbelakang hitam. Sangat jelas terlihat. Bangsa dalam artian apa? Belum selesai dilihat darimana?

Wilayah bersama.
Bahasa bersama.
Kehidupan ekonomi bersama/ berintegrasi.
Watak psikologis/ kebudayaan bersama.

Itulah kata-kata yang ditulis Max Lane di depan kurang-lebih 20 orang peserta diskusi sejarah yang diadakan oleh Pantau, Selasa 28 Agustus 2007 yang lalu. Empat ciri yang membentuk nasion (Max Lane lebih sering memakai kata nasion -dengan s bukan t- untuk mebahasakan bangsa).

Max Lane berupaya menyampaikan bahwa konsep nasion bukan konsep yang sudah ada berabad-abad. Konsep baru. Konsep yang muncul di abad 20, pada saat kapitalisme muncul. Nasion sebagai satu jaminan terhadap kemampuan berurusan dengan nasion lain. Nasion bukan jaminan kemakmuran.

Indonesia sebagai sebuah nasion, ada atau tidak? Judul buku memberi jawaban ada, tetapi belum selesai.

Berbalut kemeja coklat dan celana pantalon yang juga berwarna coklat, Max Lane bercerita tentang pendapat yang menyatakan bahwa Belanda merupakan pihak yang berperan dalam pembentukan Indonesia sebagai sebuah nasion. Sebuah pendapat yang disanggah oleh Max Lane. Pendapat tersebut kurang tepat. Peran Belanda terbatas pada penetapan wilayah bersama -satu dari empat ciri nasion- yang berhubungan dengan penetapan wilayah penjajahan antara Belanda dan Inggris, Spanyol dan Portugis. Tidak lebih dari itu. Tidak ada peran (Belanda) apapun pada 3 ciri lain. Bahasa bersama, kehidupan perekonomian bersama, dan watak psikologis/ kebudayaan bersama. Apakah Indonesia punya kebersamaan dalam hal-hal tersebut?

Max Lane bercerita sekilas mengenai nasion lain. Perancis, Inggris, Amerika dan Jepang, adalah beberapa diantaranya. Pembentukan nasion yang dilakukan melalui perjuangan melawan kolonialisme yang kemudian membentuk kebudayaan baru. Sebutlah Revolusi Perancis yang terjadi antara tahun 1789-1799 yang merupakan masa penting dalam sejarah Perancis dan Revolusi Amerika di tahun 1775 sampai 1783 yang juga dikenal sebagai Perang Kemerdekaan itu. Seperti ditulis di makalahnya “…revolusinya sampai tuntas merombak masyarakatnya dan melahirkan proses kebangsaan.”

Revolusi dengan dua sifat penting bahwa revolusi memutarbalikan susunan kekuasaan yang ada sebelumnya dan dalam proses memutarbalikan tersebut terjadi pembentukan sesuatu yang baru yang tidak ada sebelumnya.

Destruktif kreatif!

Merusak untuk membentuk sesuatu yang baru, secara kreatif. Berarti bukan sekedar merubah bentuk. Bukan sekedar “re-formed”. Ada yang baru, yang sebelumnya tidak ada.

Jadi, ada wilayah Indonesia dan Bahasa Indonesia. Setidaknya, aku bisa melihat peta dengan batas-batas Indonesia sebagai sebuah negara. Untuk bahasa, saat ini aku menulis dalam Bahasa Indonesia.

Lalu, apakah ada yang namanya perekonomian Indonesia?
Bagaimana juga dengan watak Indonesia, seperti apa watak psikologis/ kebudayaan Indonesia?

Tentu saja, diskusi sejarah ini tidak bermaksud menjawab pertanyaan tersebut, walaupun aku tetap menyesalkan bahwa diskusi bukan saja berhenti begitu mendadak, tetapi juga tanpa ada satu kesimpulan atau pertanyaan tertentu. Dan memang, menurutku, bukan Max Lane yang harus menjawab pertanyaan tersebut (tiga paragraf terakhir dalam makalahnya merupakan kesimpulannya untuk menyelesaikan pembentukan nasion). Tetapi itu bukan pertanyaan retoris yang tidak harus dijawab, justru -menurutku- itu adalah pertanyaan penting yang harus dijawab oleh setiap orang yang mengaku bagian dari “kebersamaan” sebuah Indonesia sebagai sebuah nasion.

*ya, aku masih harus membaca buku itu, tuntas*

Leave a comment

Filed under Setelah Kelas