Monthly Archives: May 2011

Kerja (tak) paksa

Tulisan ini dibuat untuk media bersama, sebuah situs online, pada tahun 2007

Hari ini, 1 Mei 2007 adalah hari pekerja internasional. Dalam berbagai media, dikatakan sebagai hari buruh internasional.May Day. Hari Mei, jika diterjemahkan secara harafiah. Buruh. Kata yang (di)identik dengan mereka yang bekerja di pabrik, secara massal. Aku mengenal kata buruh, ketika aku melihat segerombolan orang berseragam biru berjalan kaki keluar dari sebuah pabrik di sekitaran Kabupaten Bandung. Laki-laki dan perempuan. Banyak sekali. Bikin macet. Angkutan umum berjejer menunggu sebagian dari gerombolan tersebut sebagai penumpang mereka. Seseorang berkatta kepadaku, mereka itu buruh, baru pulang shift pagi.

Hari ini, 1 Mei 2007 adalah hari pekerja internasional. Dalam berbagai media, dikatakan sebagai hari buruh internasional. May Day. Hari Mei, jika diterjemahkan secara harafiah.

Buruh. Kata yang (di)identik dengan mereka yang bekerja di pabrik, secara massal. Aku mengenal kata buruh, ketika aku melihat segerombolan orang berseragam biru berjalan kaki keluar dari sebuah pabrik di sekitaran Kabupaten Bandung. Laki-laki dan perempuan. Banyak sekali. Bikin macet. Angkutan umum berjejer menunggu sebagian dari gerombolan tersebut sebagai penumpang mereka. Seseorang berkata kepadaku, mereka itu buruh, baru pulang shift pagi.

Buruh adalah pekerja pabrik. Awalnya, itulah makna buruh buat aku. Menjadi buruh berarti bekerja 8 jam sehari, dibagi dalam 3 shift, memakai seragam, bekerja dalam lingkungan pabrik, tidak butuh pendidikan terlalu tinggi, setiap hari melakukan pekerjaan yang rutin dan berulang. Satu hal lagi, isyu upah minimum regional menjadi sesuatu yang sangat penting sebagai seorang buruh. Umum jika buruh dibayar tepat pada batas upah minimum, tidak jarang ada yang masih berada di bawah upah minimum.

“Untunglah, aku sudah sekolah tinggi, jadi aku tidak perlu jadi buruh”, itu ucapan seseorang kepadaku, ketika aku melakukan sebuah tugas sekolah, lagi-lagi di Kabupaten Bandung.

Betulkah, dengan sekolah tinggi, dia tidak perlu menjadi buruh, seperti orang tuanya?

1 Mei, dalam bahasa Inggris dikatakan sebagai “International Worker’s Day”. Worker. Dari kata work. Itu berarti pekerja. Itu berarti, ini adalah hari untuk semua pekerja. Semua orang yang bekerja.

Bekerja seperti apa? Apakah seseorang bekerja hanya ketika seseorang pergi ke sebuah pabrik, dengan seragam, dibayar pas dengan standar gaji yang ditentukan pemerintah? Bagaimana dengan mereka yang pergi ke sebuah gedung yang dinamakan kantor pagi-pagi buta, dan pulang tengah malam menuju bangunan yang disebut rumah? Apakah ketika kita menerima sejumlah uang atas apa yang kita lakukan dalam kurun waktu tertentu, berarti kita sudah bekerja?

Apa yang saat ini tengah kamu kerjakan? Menjadi pegawai negeri sipil? Karyawan perusahaan? Manajer operasional? Direktur? Pemilik perusahaan? Dosen? Dokter? Pendeta? Peneliti? Atau, bahkan pekerja sosial? Ketika seseorang bertanya, ”bekerja dimana?” bukankah kemungkinan besar kamu akan menjawab dengan salah satu dari sekian pilihan tersebut.

Bekerja. Mempergunakan waktu yang ada untuk melakukan sesuatu yang berguna baik untuk diri sendiri, dan lebih baik lagi kalau bisa berguna buat orang lain, dan lebih banyak orang. Berpikir dengan otak, digabung dengan beberapa pekerjaan otot.

Betapa bersyukur, orang yang bisa bekerja karena mereka mencintai apa yang dilakukan, dan bisa membuat bukan hanya hidupnya menjadi lebih baik tetapi hidup orang lain. Bekerja bukan semata-mata untuk memperoleh segenggam rupiah, mendapat kehormatan, atau bahkan sekedar menghabiskan waktu. Bekerja untuk berkarya. Membuat karya. Menciptakan karya.

Tapi, sebagian besar dari kita, mulai dari yang gaji di bawah standar sampai yang berpuluh-puluh kali lipat dari standar, terkukung dalam pekerjaan (dalam berbagai bentuk) bukan? Dan, tidak perduli dengan titel, kemegahan bangunan kantor, pendek-panjang deretan angka di slip gaji, kita adalah pekerja.

Selamat hari pekerja internasional. Kehidupan dan masa depan kaum pekerja, ada di tangan kaum pekerja sendiri, bukan?!

Advertisements

1 Comment

Filed under Setelah Kelas