Monthly Archives: August 2007

Destruksi Kreatif Untuk Sebuah Nasion

Max Lane, penterjemah Tetralogi Pramoedya Ananta Toer. Tulisannya tentang Indonesia dapat ditemukan berbagai jurnal. Bule yang menulis tentang Indonesia. Bukan sesuatu yang baru, tetapi – untuk saya sendiri – sering menjadi sesuatu yang bikin miris. Terutama ketika setiap kata yang terucap menjadi seperti sebuah mantra yang segera diamini. Mei lalu, Max Lane meluncurkan buku “Bangsa Yang Belum Selesai: Indonesia Sebelum dan Sesudah Soeharto”. Kalimat itu tercetak pada halaman muka buku, ditulis dengan warna kuning berlatarbelakang hitam. Sangat jelas terlihat. Bangsa dalam artian apa? Belum selesai dilihat darimana?

Wilayah bersama.
Bahasa bersama.
Kehidupan ekonomi bersama/ berintegrasi.
Watak psikologis/ kebudayaan bersama.

Itulah kata-kata yang ditulis Max Lane di depan kurang-lebih 20 orang peserta diskusi sejarah yang diadakan oleh Pantau, Selasa 28 Agustus 2007 yang lalu. Empat ciri yang membentuk nasion (Max Lane lebih sering memakai kata nasion -dengan s bukan t- untuk mebahasakan bangsa).

Max Lane berupaya menyampaikan bahwa konsep nasion bukan konsep yang sudah ada berabad-abad. Konsep baru. Konsep yang muncul di abad 20, pada saat kapitalisme muncul. Nasion sebagai satu jaminan terhadap kemampuan berurusan dengan nasion lain. Nasion bukan jaminan kemakmuran.

Indonesia sebagai sebuah nasion, ada atau tidak? Judul buku memberi jawaban ada, tetapi belum selesai.

Berbalut kemeja coklat dan celana pantalon yang juga berwarna coklat, Max Lane bercerita tentang pendapat yang menyatakan bahwa Belanda merupakan pihak yang berperan dalam pembentukan Indonesia sebagai sebuah nasion. Sebuah pendapat yang disanggah oleh Max Lane. Pendapat tersebut kurang tepat. Peran Belanda terbatas pada penetapan wilayah bersama -satu dari empat ciri nasion- yang berhubungan dengan penetapan wilayah penjajahan antara Belanda dan Inggris, Spanyol dan Portugis. Tidak lebih dari itu. Tidak ada peran (Belanda) apapun pada 3 ciri lain. Bahasa bersama, kehidupan perekonomian bersama, dan watak psikologis/ kebudayaan bersama. Apakah Indonesia punya kebersamaan dalam hal-hal tersebut?

Max Lane bercerita sekilas mengenai nasion lain. Perancis, Inggris, Amerika dan Jepang, adalah beberapa diantaranya. Pembentukan nasion yang dilakukan melalui perjuangan melawan kolonialisme yang kemudian membentuk kebudayaan baru. Sebutlah Revolusi Perancis yang terjadi antara tahun 1789-1799 yang merupakan masa penting dalam sejarah Perancis dan Revolusi Amerika di tahun 1775 sampai 1783 yang juga dikenal sebagai Perang Kemerdekaan itu. Seperti ditulis di makalahnya “…revolusinya sampai tuntas merombak masyarakatnya dan melahirkan proses kebangsaan.”

Revolusi dengan dua sifat penting bahwa revolusi memutarbalikan susunan kekuasaan yang ada sebelumnya dan dalam proses memutarbalikan tersebut terjadi pembentukan sesuatu yang baru yang tidak ada sebelumnya.

Destruktif kreatif!

Merusak untuk membentuk sesuatu yang baru, secara kreatif. Berarti bukan sekedar merubah bentuk. Bukan sekedar “re-formed”. Ada yang baru, yang sebelumnya tidak ada.

Jadi, ada wilayah Indonesia dan Bahasa Indonesia. Setidaknya, aku bisa melihat peta dengan batas-batas Indonesia sebagai sebuah negara. Untuk bahasa, saat ini aku menulis dalam Bahasa Indonesia.

Lalu, apakah ada yang namanya perekonomian Indonesia?
Bagaimana juga dengan watak Indonesia, seperti apa watak psikologis/ kebudayaan Indonesia?

Tentu saja, diskusi sejarah ini tidak bermaksud menjawab pertanyaan tersebut, walaupun aku tetap menyesalkan bahwa diskusi bukan saja berhenti begitu mendadak, tetapi juga tanpa ada satu kesimpulan atau pertanyaan tertentu. Dan memang, menurutku, bukan Max Lane yang harus menjawab pertanyaan tersebut (tiga paragraf terakhir dalam makalahnya merupakan kesimpulannya untuk menyelesaikan pembentukan nasion). Tetapi itu bukan pertanyaan retoris yang tidak harus dijawab, justru -menurutku- itu adalah pertanyaan penting yang harus dijawab oleh setiap orang yang mengaku bagian dari “kebersamaan” sebuah Indonesia sebagai sebuah nasion.

*ya, aku masih harus membaca buku itu, tuntas*

Advertisements

Leave a comment

Filed under Setelah Kelas

Menulis Untuk Mengubah

Seorang Fadjroel Rachman dengan tenang namun tegas berkata bahwa ia menulis untuk mengubah.Tidak heran kalau kemudian Fadjroel bilang ia memilih tema tulisan yang punya dampak langsung ke masyarakat.

Ah, selamat tinggal tulisan-tulisan tidak penting di blog, yang seringkali berisi curhat, atau sekedar rangkaian kegiatan yang dilakukan sepanjang hari, dan bahkan tidak jarang tulisan itu tidak punya makna apapun selain di-upload karena ingin di-upload. Padahal, kalau aku mau menulis seperti seorang Fadjroel Rachman, berarti tulisan itu harus punya makna, kesan, dan menjadi pendorong terhadap satu perubahan

Itu, lagi-lagi, kalau aku mau menulis seperti seorang Fadjroel Rachman menulis.

Tulisan itu punya argumentasi, berisi statistik yang menguatkan, dilengkapi dengan testimoni dan ditulis dengan gaya, ini lagi-lagi pendapat Fadjroel. Menulis musti mikir! Ada strategi. Diutak-atik supaya apa yang ingin disampaikan bisa diterima dengan benar dan juga menarik. Tulisan itu kemudian membawa gagasan dari otak si penulis ke pembacanya.

Gagasan yang bergerak. Menurut Fadjroel (seperti yang dikemukakan Sudjatmoko kepadanya), gagasan itu punya kaki.

Aku langsung membayangkan satu sosok menyerupai manusia dengan kepala yang berisi ide, berlari lincah dengan kaki yang panjang. Kaki, memungkinkan kita semua bergerak dari satu titik ke titik lain (walaupun di jaman sekarang, tanpa kakipun kita bisa melakukan itu). Kaki identik dengan bergerak. Gagasan berkaki, gagasan bergerak.

Aku teringat keponakanku yang baru belajar berjalan. Umurnya 9 bulan. Kami semua bilang, ia belum berjalan, masih tata-tata. Jalan tertatih-tatih, dibantu oleh orang dewasa. Sampai nanti, kakinya cukup kuat dan mampu berkoordinasi dengan baik, dan keponakanku itu bisa berjalan dengan sempurna.

Aku pikir, menulis gagasanpun melewati tahap itu. Tahap tata-tata. Harus belajar dan berlatih, terus menerus. Berlatih berargumentasi. Berlatih menulis data statistik dengan menarik. Berlatih menempatkan kutipan yang tepat. Berlatih menulis dengan gaya sendiri.

Fadjroel melatih menulis melalui tulisan orang lain yang dia ikuti berkali-kali, sampai kemudian ia menemukan style sendiri. Fadjroel membaca begitu banyak buku dan karya sastra yang kemudian mempengaruhi tulisannya. Fadjroel tidak segan menggubah judul karya sastra atau film untuk menarik perhatian penulisnya. Itu adalah gaya Fadjroel, yang sudah tentu tidak ditemukan sehari dua hari, kan?

Oya, Fadjroel membaca keras-keras tulisan yang ia buat. Ini membuat dia mengetahui apakah tulisan tersebut perlu diperbaiki atau tidak, enak dibaca atau masih harus diperbaiki. Sayangnya, aku saat ini ada di kantor, kalau aku harus membaca tulisan ini keras-keras, teman-teman satu ruanganku akan dengan senang hati menimpuki aku dengan apapun supaya aku diam.

Kalau kamu, bagaimana kamu menentukan tulisanmu masih harus diperbaiki atau sudah selesai dan bisa dipergunakan sebagai alat untuk mengubah?

3 Comments

Filed under Dari Kelas