Monthly Archives: July 2007

Gaya Priyayi Gay Talese

IT WAS NOT quite spring, the silent season before the search for salmon, and the old fishermen of San Francisco were either painting their boats or repairing their nets along the pier or sitting in the sun talking quietly among themselves, watching the tourists come and go, and smiling, now, as a pretty girl paused to take their picture.”

Kalimat pembuka The Silence Season of A Hero, sebuah essay Gay Talese, bercerita tentang DiMaggio, pemain baseball terkenal Amerika. Andreas memuji kalimat pembuka ini. Aku juga terkesima. Padahal, kalimat itu panjang sekali. Ada 60 kata. Untuk satu kalimat.

Memang, tulisan Gay penuh dengan tulisan panjang. Tapi tidak melelahkan.

Mengejutkan, ketika Gay bercerita tentang dirinya sendiri. Waktu itu, ia mencoba mewawancara DiMagio. “When the man entered the restaurant from the side steps leading to the dining room, he saw DiMaggio standing near the window, talking with an elderly maître d’ named Charles Friscia. Not wanting to walk in and risk intrusion, the man asked one of DiMaggio’s nephews to inform Joe of his presence. When DiMaggio got the message, he quickly turned and left Friscia and disappeared through an exit leading down to the kitchen.” The man adalah Gay Talese. Ia membiarkan dirinya menjadi bagian dari cerita, dengan begitu anggun, berkelas, layaknya priyayi.

Gay, adalah orang yang memaparkan DiMaggio dimata seorang Zio Pepe dengan lagnuso, lazy, meschino, good-for-nothing. Tanpa italic, tanpa tanda petik. Mempergunakan bahasa Itali dan Inggris bersamaan. Keduanya saling menjelaskan.

Permainan kata, permainan tanda baca, permainan spasi, adalah sedikit dari permainan Gay Talese yang bisa ditengok dari tulisan ini.

Gay Talese yang pengamat, bertemu DiMaggio di pagi hari, Gay menuliskan “Picking up the morning paper, not rushing to the sports page, DiMaggio read the front-page news, the people problems of 1966; Kwame Nkrumah was overthrown in Ghana, students were burning their draft cards (DiMaggio shook his head), the flu epidemic was spreading through the whole state of California. Then he flipped inside through the gossip columns, thankful they did not have him in there today – they had printed an item about his dating “an electrifying airline hostess” not long ago, and they also spotted him at dinner with Dori Lane, “the frantic frugger” in Whisky à Go Go’s glass cage – and then he turned to the sports page and read a story about how the injured Mickey Mantle may never regain his form.” Sebuah profil yang menurutku begitu manusiawi, dan sangat personal. Membaca koran dengan tenang biasa dilakukan di rumah, sambil menikmati sarapan pagi. Gay Talese kemungkinan besar diterima dengan baik, sampai bisa menemani DiMaggio menikmati korannya. Jam 8 pagi, seorang DiMaggio sudah bertemu penulis Gay Talese.

Buat aku, bisa jadi seorang Gay Talese bukan saja seorang yang piawai menggambarkan profil, tetapi jagoan dalam menaklukan hati profil tersebut.

Tidak heran, kalau Gay Talese berhasil bercerita tentang mawar merah DiMaggio yang kemudian menjadi hit besar itu. Iya, bunga segar yang diletakkan di makam Marylin Monroe, mantan istri yang sebetulnya nyaris kembali menjadi istri DiMaggio, kalau bukan karena kematian. Bunga segar yang menjadikan tulisan ini begitu terkenal. Bunga segar yang selalu ada di makam, setiap pagi, tidak absen, sampai hari terakhir sebelum kematian DiMaggio sendiri, lebih dari dua puluh tahun kemudian!

Gay Talese

Aku, sering mengintip kolom profil di beberapa surat kabar. Kompas, Jakarta Post. Juga teringat profil kepala daerah yang pernah aku baca. Profil penulis di halaman belakang buku. Profil tokoh-tokoh penting yang dibukukan. Semua aku baca. Hanya satu kali. Dengan sedikit sekali “karakter” yang aku ingat, tentang profil itu.

 

Gay Talese, membuat aku mengingat DiMaggio, lebih dari yang aku ingin ketahui.

Advertisements

Leave a comment

Filed under Dari Kelas