Monthly Archives: May 2007

Topik: Kiri

Topik tulisan, itu yang seharusnya kami presentasikan hari itu.

Di otakku, sudah ada topik-topik yang berseliweran sejak hari pertama kursus. Iya, topik-topik. Karena ada lebih dari 1 topik yang menarik buat aku, dan itu bisa berganti setiap harinya.

Sampai aku memutuskan mengirimkan email ke Andreas, curhat tentang kebingunganku. Waktu itu, aku bercerita tentang 2 topik yang paling sering nongol di kepalaku. Andreas sepakat, dua topik yang aku tawarkan itu memang berbeda satu sama lain. Masing-masing dengan daya tarik dan tantangan yang berbeda.

Di kelas, Mas Buset membuat aku menetapkan hati, untuk menulis tentang sesuatu yang sudah berakhir, sudah terjadi. Kalau masih berlangsung, ada kerepotan tersendiri yang ingin aku hindari saat ini.

“Aku ingin menulis tentang kiri,” begitu aku berkata, sambil deg-degan. Soalnya aku jadi teringat dengan tumpukan bacaan yang seharusnya sudah selesai aku baca. Tumpukan buku kiri yang sudah disusun menurut tingkat pengetahuan. Maksudnya dari versi dummy sampai sedikit lewat dummy. Abangku berbaik hati memilihkan buku-buku itu. Tentu saja, semua baru aku lirik, satu dua sudah aku baca, tapi itupun hanya bab-bab awal.

Aku berpikir apa konflik yang mau aku angkat. Aku tidak berminat menulis tentang berbagai kelompok kiri yang ada di Indonesia, saat ini atau di masa lalu. Aku tidak berminat membahas aliran-aliran kiri. Aku ingin menulis kiri dengan cukup ringan, dan dapat dibaca dengan santai oleh siapapun, kiri, kanan, banci kiri kanan.

Dua hari lalu, aku membaca buku yang berisi wawancara Martha Harnecker dengan Hugo Chavez (Memahami Revolusi Venezuela). Halaman pertama membuat aku terhenyak. Chavez banyak membaca. Buat aku, itu mengherankan. Maklum, aku jarang tahu tentara suka membaca. Bahkan, aku masih sering menemukan guru, dosen, peneliti yang juga tidak membaca (kecuali kepepet atau kerjaan). Walaupun buku tentang Chavez itu belum selesai aku baca, aku yakin buku membentuk seorang Chavez.

Aku jadi ingin tahu, bagaimana dengan orang-orang yang kemudian dicap atau mengaku kiri? Kok bisa ya mereka menjadi kiri? Apakah mereka membaca? Buku apa yang dibaca? Aku ingin tahu buku yang pertama mereka baca, aku ingin tahu buku terakhir yang mereka baca, aku ingin tahu buku yang paling sering mereka baca, aku ingin tahu buku yang tidak pernah mereka baca, aku ingin tahu keragaman bacaan mereka, aku ingin tahu bagaimana mereka memperoleh buku-buku yang mereka baca.

Dan, itu bukan hanya untuk orang kiri, tetapi juga mereka yang berseberangan.

Aku jadi berpikir, untuk mengambil satu peristiwa sebagai titik masuk dan pengikat. Peristiwa Ultimus, di 14 Desember 2006. Ultimus, lebih banyak dikenal sebagai toko buku murah di Kota Bandung, sebetulnya lebih dari sekedar berjualan buku. Sebuah diskusi tentang Gerakan Marxisme Internasional membuat Ultimus disegel kepolisian, dan beberapa orang harus menginap di tahanan untuk semalam. Disitu, ada orang kiri, kanan, polisi, tetangga, tukang jualan, laki-laki dan perempuan.

Aku ingin mulai dari situ. Melihat beberapa karakter yang ada di tempat itu saat itu. Mencari bacaan yang akrab dengan karakter itu. Flash back dengan mempergunakan saat-saat karakter tersebut membaca buku pertama mereka, buku kiri,buku kanan atau sekedar buku pertama sewaktu baru bisa membaca. Aku tahu, bisa jadi aku menemukan orang yang tidak pernah membaca.

Aku teringat, pada waktu peristiwa itu terjadi, ada satu buku yang baru dicetak dan siap jual. Engels tentang Kapital Marx. Beberapa orang yang membubarkan acara itu, sempat mengambil buku tersebut. Buku itu kemudian sempat terkatung-katung. Aku pikir, aku ingin mengakhiri tulisan itu dengan nasib si buku itu.
Sebetulnya sudah banyak sekali tulisan tentang peristiwa Ultimus. Bahkan di Pantau pun ada. Tulisan Yani. Aku sendiri pun menulis tentang peristiwa itu. Di blog. Tantangan untuk bisa menulis sebuah peristiwa yang ditulis di berbagai media massa dengan tetap menarik dan berbeda.

Akses ke situ bisa aku peroleh, walaupun beberapa pihak masih harus aku usahakan. Daftar nama itu, terus berkembang. Ada yang bisa bertemu langsung, ada yang harus lewat tulisan. Tidak apa-apa. Justru yang berat adalah, aku hanya punya akhir pekan untuk bisa bertemu. Itupun kalau tidak harus pergi-pergi ke luar kota seperti yang terjadi 2 minggu terakhir ini.

Langkah pertama: aku harus segera bereskan outline tulisanku (dan aku masih tetap penasaran, apa yang terjadi di kelas Hiroshima, ya?)

8 Comments

Filed under Dari Kelas

Hiroshima

Membaca Hiroshima, membuat aku lupa aku sedang membaca sebuah laporan. Serasa baca novel. Fiksi. Apa ya istilahnya, page turner. Aku sulit berhenti membacanya. Padahal, aku mulai membaca jam 11 malam, dan sampai jam 12 malam, aku masih bersemangat menyelesaikan Hiroshima.

Oya, aku musti bilang, aku tidak suka cerita perang. Aku tidak suka film perang. Kalau aku menonton film perang, syarat utama adalah film itu harus memiliki gambar yang bagus. Bukan gambar indah, tapi gambar yang bagus, gambar yang kuat, warna yang kuat. Tapi, tanpa darah bercucuran. Aduh, kalau pakai darah, mendingan aku tutup mata saja, deh. Aku juga tidak suka membaca cerita perang. Capek. Kesal. Marah. Ingin menangis. Sesak. Napasku betul betul sesak.

Untuk Hiroshima, semua perkataan di atas harus aku tarik. Hiroshima, bercerita tentang perang, tanpa harus mengumbar kekerasan perang dengan kata-kata yang keras dan menyakitkan. Justru dengan kata-kata yang terlihat lembut, kekejaman dan kekerasan peristiwa itu begitu kuat. Memukau.

Membaca Hiroshima, seperti menonton Hiroshima. Tapi, aku tidak sedang berbicara tentang Film Hiroshima yang disutradai Koreyoshi Kurahara dan Roger Spottiswoode, aku sedang membaca Hiroshima yang ditulis oleh John Hersey.

Bagian-bagian awal tulisan, Hersey bergantian bercerita tentang orang-orang yang berbeda di lokasi yang berbeda. Kalau ini film, aku suka sekali gaya seperti ini. Model Pulp Fiction atau Love Actually. Di awal bacaan belum kelihatan, apa sih kaitan satu tokoh dengan tokoh lain. Tidak lama, akan segera diketahui, bagaimana keseluruh tokoh adalah “hibakusha”, survivor, mereka yang lolos dari bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima.

Semuanya begitu detail. Kegiatan para hibakusha itu sebelum, pada saat, dan setelah kejadian. Apa yang sedang mereka pakai, bahkan apa yang sedang mereka pikirkan. Bagaimana tiap cerita bergantian tertulis, tanpa terasa ada jeda atau pergantian orang dan tempat. Sungguh, sulit membayangkan ini adalah hasil wawancara. Sulit melihat ini bukan fiksi, bukan rekayasa. Bagaimana bisa John Hersey mengingat semuanya seperti ini?

Tunggu, aku rubah pertanyaaannya. Bagaimana bisa John Hersey bercerita seakan-akan dia ada di dalam hati dan jiwa tiap tiap tokohnya, dan seakan-akan dia mengalami semuanya. Aku tidak tahu. Bagaimana dia bisa melakukannya.

Sayang, aku tidak akan bisa hadir di kelas yang membahas Hiroshima. And I hate that so much. Aku ingin tahu, apa yang akan dibahas. Aku ingin tahu, bagaimana tulisan ini bisa dibuat sebegitu rupa. Aku berharap, bisa memperoleh cerita dari siapapun yang hadir saat itu, dan membuat aku merasa seakan-akan aku hadir di kelas (walaupun saat itu aku ada di seberang pulau), sebagaimana John Hersey membuat aku seakan-akan hadir di Hiroshima, di tahun 1945.

1 Comment

Filed under Dari Kelas

Tempo

Malam ini, aku belajar tentang 7 pertimbangan kalau mau menulis narasi. Fakta. Konflik. Karakter. Akses. Emosi. Perjalanan waktu. Unsur Kebaruan. Tujuh, adalah angka kesukaanku. Mudah-mudahan 7 pertimbangan ini bisa juga menjadi mainan baru yang aku sukai.

Tujuh hal tersebut adalah baru dan tidak baru. Tujuh hal itu mudah dipahami dan dimengerti. Tetapi, jauh dari mudah untuk bisa mempertimbangkan keseluruhan dalam menulis. Menulis sih buat aku ya menulis saja. Mungkin mirip seperti yang Mai (masih gak yakin, apakah penulisan nama ini memang benar) bilang di kelas, menulis saat sangat marah. Aku, mungkin tidak selalu pada waktu marah, tetapi hampir pasti setiap ada emosi yang cukup kuat. Marah. Sedih. Senang. Kecewa. Emosi yang bermain. Logika sih nanti dulu.

Tidak heran, aku sering menulis sekali jadi. Pas waktu emosi lagi kuat. Aku hampir tidak pernah membaca ulang tulisanku. Bahkan ketika ada salah ketik.

Tapi, aku kan mau belajar. Harus belajar. Harus mencoba untuk menulis lebih baik. Terutama menulis panjang.

Untuk itu, aku ternyata (antara lain) harus memperhatikan tempo. Tempo dalam narasi, merubah emosi.

Aku akan selalu ingat bagaimana Andreas mengilustrasikan tempo. Ia berjalan di tempat, perlahan. Tak lama dia berjalan di tempat, cepat. Gedubrak gedubruk, brak bruk brak bruk. Kemudian, masih berjalan di tempat, kembali melambat.

Bermain dengan tempo. Itu yang dia coba tunjukan. Aku baru tahu, dalam tulisanpun, kita harus bermain dengan tempo.

Atur paragraf. Letakkan empty space atau white space.

Seru.

Aku sih terbayang dengan lagu. Teringat musik. Bagaimana tempo lagu sering bisa membuat aku merasa bahagia, sedih, senang, semangat, atau malah pusing kepala. Yang terakhir, ini kalau dengar lagu gombrang gombreng gak jelas.

Untuk siaran di radio, tempo juga penting. Karena aku dulu siaran pagi, lagu-lagu yang diputar pasti harus up-beat. Bertempo cepat. Setidaknya bertempo medium. Tujuannya sudah pasti untuk membuat pendengar bersemangat. Pagi-pagi dikasih lagu lambat, sama dengan mengajak tidur orang yang mendengarkan kami.

Aku juga teringat pada beberapa lagu yang punya tempo yang rumit. Aneh. Sulit diikuti, dan butuh ketelitian. Terutama ketika harus dinyanyikan dalam kelompok. Seperti sebuah lagu Jepang berjudul Kodomo. Harus punya “sense of rhtyhm” untuk bisa bernyanyi dengan tepat. Plus latihan ketat.

Untuk tulisan fiksi, aku bisa mengenali bagaimana tempo dimainkan dalam tulisan. Menurut psikotes yang dilakukan waktu mau kuliah hampir 10 tahun lalu, imajinasi visual aku kuat. Pada waktu aku membaca fiksi, tempo mudah aku rasakan. Biasanya, di kepalaku, langsung tergambar adegan-adegan yang cepat. Snap snap snap. Tidak jarang, pergantian halaman demi halaman yang aku baca juga menjadi lebih cepat. Aneh sih. Tapi untuk non fiksi, aku jarang bisa merasakan hal yang sama. Cenderung bosan. Aku membaca karena harus aku baca. Tanpa emosi. Hanya fakta yang aku harus aku pahami. Tidak jarang, aku harus baca dua tiga kali. Apalagi aku tuh sebel banget kalau harus melihat paragraf panjang-panjang seperti yang ditulis abang aku. Buat aku, penampilan visual sebuah tulisan penting. Tidak perlu ada ilustrasi, tetapi setidaknya tidak terdiri dari satu paragraf panjang sampai satu halaman A4. Capek deh!

Untuk tulisan, aku masih harus belajar bagaimana bermain dengan tempo. Tempo yang aku butuhkan untuk membangun ketegangan. Tempo yang harus aku ciptakan untuk menciptakan ketenangan. Tempo yang harus ditulis untuk membuat pembaca tulisan merasakan emosi yang ada di tulisan itu.

Itu baru satu. Masih ada enam lainnya. Harus berlatih.

Tulisan ini baru terdiri dari 550-an kata, padahal aku lagi mencoba menulis lebih panjang disini. Tulisan yang lebih pendek mustinya masuk ke pojok sebelah.

Metronom

2 Comments

Filed under Dari Kelas

Verifikasi

Hari ini, aku belajar:

  • Transparan dalam metoda dan motivasi menulis.
  • Hormat pada urutan sumber.
  • Open minded

Ketiga hal itu mengingatkan aku pada peristiwa ultimus. Ketika aku harus membaca berbagai berita tentang peristiwa itu, betapa ada begitu banyak kesalahan. Penyederhanaan terhadap fakta. Dan kenyataan, bahwa tidak ada satupun mereka yang terlibat diwawancara langsung untuk berita tersebut (barangkali karena mereka ada di penjara?). Beberapa tulisan selanjutnya, berhasil mengulas peristiwa itu dengan lebih tepat, akurat dan benar. Satu yang aku suka, tulisan Yani di Pantau tentang peristiwa itu, dan tulisan George di Jakarta Post tentang peristiwa yang sama.

Menurut aku, saat itu, tidak ada hormat pada urutan sumber. Penulis berita lebih banyak bertanya pada pihak yang menonton peristiwa tersebut, dan bahkan pihak ketga atau keempat dari peristiwa Ultimus. Bahkan, nama-nama peserta diskusi Marxisme Internasional itupun sebagian besar ditulis dengan cara salah.

Aku berpikir, bagaiman jika tulisan dibuat berdasarkan proyek? Bagaimanakah urutan sumber tulisan tersebut? Apakah orang pertama adalah pelaku proyek, penerima dana, atau penerima keuntungan langsung?

Ah, nanti aku tanyakan dulu ya, jawaban untuk pertanyaan di atas.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Tes Nama

Tes Nama

Jangan berharap terlalu banyak aku bisa mengingat nama orang dengan cepat (atau lama, alias bisa aku simpan dalam ingatan dalam waktu cukup lama). Aku bisa ingat baju, penampilan, atau hal hal lain, tetapi tidak dengan nama.

Tapi, aku mau coba mengingat nama baru di kursus narasi.

Andreas Harsono. Itu gampang. Karena dia yang memberi materi.
Buset. Hmmm, kalau tidak salah Budi Sesuatu. Duh. Padahal dia juga akan memberi materi di beberapa kelas.
Buyung yang punya nama asli Budi Afriyan. Kerja di Trans TV. Kameramen. Mudah. Soalnya Buyung dan aku satu kelas selama 4,5 tahun. Keterlaluan kalau aku lupa dengan Buyung.
Mba Kiki. Orang yang membantu aku dengan memberi petunjuk bagaimana cara aku bisa pulang dari Pantau. “Aku mau ke BEJ, Mba”. Dan, Mba Kiki dengan ceria langsung memberi sejumlah petunjuk. Maaf, Mba, kalau pada akhirnya aku ambil jalan sendiri. AKu memilih mencoba satu rute yang seharusnya aku pakai untuk tiba ke Pantau. Mba Kiki ini tukang potret. Dia punya kantor sendiri dan juga bekerja di manajemen seorang artis.
Nurul. Aku ingat karena dia bekerja untuk UNDP. Lulus dari pesantren. Itu yang aku ingat.
Mai. Kerja di Jatam. Semoga betul. AKu sungguh tidak yakin.
Odit. Kerja di Jakarta Post. Aku juga tidak yakin dengan nama dia. Dia pulang ke arah Slipi.
Nenden. Baju putih. Kacamata. Punya buku sembilan elemen jurnalisme. Pernah melihat langsung Bill Kovach di Yogya.
Mba Fiqoh. Selama ini, aku berhubungan lewat email. Entah kenapa, Mba Fiqoh mengingatkan aku dengan Zhang Ziyi. Mirip mirip dikit. Murah senyum.

Susah payah aku coba, tapi aku tidak bisa ingat nama yang lain, kecuali aku lihat alamat email mereka. Tapi aku ingat tempat kerja beberapa orang. Ada yang bekerja di Bussiness Indonesia, Indonesian Corruption Watch, Telkom (soalnya pakai jaket Telkom, jadi gampang diingat), pelabuhan (sama-sama terlambat). Ada dua orang yang pernah bersekolah di ISS, angkatan 2004. Ada satu orang yang kelihatannya sama-sama nonton java jazz festival yang pertama, di tahun 2005 (kecuali kalau kaos itu pemberian orang).

Berarti ada satu orang perempuan lain, dengan baju pink, duduk di pojok, dengan rambut gelombang dan kacamata. Dia tidak banyak bicara. Aku tidak tahu apapun tentangnya, termasuk namanya. Ada satu orang lain, juga duduk di pojok belakang. Seorang laki-laki. Rasanya, yang paling senior dari semua peserta kursus. Teleponnya sering berdering. Nada dering yang dipakai, diambil dari lagu Indonesia yang sedang populer. Terakhir, seorang laki-laki berkacamata. Aku tidak tahu dimana dia bekerja, tetapi pasti berhubungan dengan hukum atau hak azasi. Ketika berbicara tentang Munir atau Mba Suciwati, Andreas melihat pada lelaki ini.

Hmmm, aku coba ingat-ingat, ada berapa orang yang ikut kursus. Lima belas orang. Setelah 18 minggu, pastinya lebih banyak yang aku ketahui tentang mereka. Tapi yang paling penting, lebih banyak yang aku ketahui tentang menulis.

2 Comments

Filed under Dari Kelas

Kursus Narasi

Kesenanganku membaca blog membawa aku ke blog Andreas Harsono. Aku terpikat. Pada tulisannya. Pada kejelasan tulisannya. Pada kemampuannya membuat aku membaca satu artikel penuh, walaupun itu cukup panjang untuk ukuran blog yang biasa (dan bisa) aku baca.

Aku memutuskan untuk ikut kursus narasi. Awalnya aku senang sekali diberi kesempatan ini. Kemudian, aku gamang. Apa betul aku bisa. Ketika Dinda bilang,”booo berat banget,” waktu dia melihat silabus kursus, aku panik. Bagaimana mungkin aku nekad mengambil kursus, yang bukan saja mahal untuk ukuran kantong aku, tapi juga menuntut kedisplinan untuk membaca, dan terutama karena akan berlansung selama 4-5 bulan.

Kursus adalah kegiatan yang paling aku hindari karena aku cepat bosan. Coba kursus Bahasa Belanda, hanya bertahan 3 minggu.  Sisanya, aku memilih nonton sinetron bahasa Belanda. Tidak heran, aku hanya mampu mengucapkan angka dan beberapa kalimat  standar dalam Bahasa Belanda.  Pernah mau ikut komputer, hanya 2 kali aku bosan. Menurut aku, kelas komputer itu terlalu lambat. Kursus vokal, justru berhasil aku lakukan ketika aku menggantikan orang yang sebetulnya kursus. Ketika aku yang mengambil kursus, bahkan untuk datang pun aku gagal.

Jadi, ketika aku harus pergi ke Pantau, di lokasi yang tidak aku ketahui berbekal peta sederhana tanpa skala, aku berusaha menekan semua perasaan yang ada. Senang, penasaran, takut, gamang, semuanya aku redam. Aku harus pergi kesana. Ketika aku dengan ceroboh melewati satu belokan yang harusnya aku ambil, dan nyasar ke satu jalan buntu, aku melihatnya sebagai tantangan untuk berhasil mencari jalan keluar. Berbekal instruksi via telepon, dan “feeling” terhadap arah yang harus aku tempuh, aku berhasil keluar dari kompleks dengan banyak kata simpruk, menuju permata hijau dan akhirnya sampai ke Pantau.

Dua jam aku jalani tanpa rasa bosan sedikitpun. Malah, aku tidak sadar kalau 2 jam sudah berlalu. Satu-satunya yang ingin aku ulang di pertemuan pertama itu adalah saat aku harus memperkenalkan diri. Aku tidak akan berkata seperti apa yang aku katakan saat itu. Aku hanya akan bilang, aku bukan wartawan dan bukan jurnalis. Aku hanya senang menulis. Karena itu aku ikut Kursus Narasi.

2 Comments

Filed under Dari Kelas

Menulis

Menulis, adalah sesuatu yang aku suka. Tapi, harus tanpa paksaan. Ketika melihat atau merasakan atau tiba tiba memikirkan sesuatu, aku harus menulisnya. Di kertas bekas sekalipun. Kalau itu tidak dilakukan, belum tentu aku bisa menuliskan hal itu lagi. Bahkan, belum tentu aku bisa mengingat apa yang mau aku tulis.

Aku, jarang membaca ulang tulisanku. Sekali jadi. Tidak perduli dengan kekurangan, kesalahan atau ketidakjelasan kalimat. Ini, sering membuat orang bingung dan protes. Ya, aku menulis hanya untuk bersenang-senang.

Sekarang, aku ingin aku menulis tidak hanya untuk bersenang-senang. Menulis lebih baik. Menulis lebih fokus. Menulis dengan benar. Menulis untuk bersenang-senang tetap akan aku lakukan, tetapi aku akan belajar untuk menulis lebih baik, fokus dan benar.

Leave a comment

Filed under Dari Kelas