August 6, 2007...9:11 am

Menulis Untuk Mengubah

Jump to Comments

Seorang Fadjroel Rachman dengan tenang namun tegas berkata bahwa ia menulis untuk mengubah.Tidak heran kalau kemudian Fadjroel bilang ia memilih tema tulisan yang punya dampak langsung ke masyarakat.

Ah, selamat tinggal tulisan-tulisan tidak penting di blog, yang seringkali berisi curhat, atau sekedar rangkaian kegiatan yang dilakukan sepanjang hari, dan bahkan tidak jarang tulisan itu tidak punya makna apapun selain di-upload karena ingin di-upload. Padahal, kalau aku mau menulis seperti seorang Fadjroel Rachman, berarti tulisan itu harus punya makna, kesan, dan menjadi pendorong terhadap satu perubahan

Itu, lagi-lagi, kalau aku mau menulis seperti seorang Fadjroel Rachman menulis.

Tulisan itu punya argumentasi, berisi statistik yang menguatkan, dilengkapi dengan testimoni dan ditulis dengan gaya, ini lagi-lagi pendapat Fadjroel. Menulis musti mikir! Ada strategi. Diutak-atik supaya apa yang ingin disampaikan bisa diterima dengan benar dan juga menarik. Tulisan itu kemudian membawa gagasan dari otak si penulis ke pembacanya.

Gagasan yang bergerak. Menurut Fadjroel (seperti yang dikemukakan Sudjatmoko kepadanya), gagasan itu punya kaki.

Aku langsung membayangkan satu sosok menyerupai manusia dengan kepala yang berisi ide, berlari lincah dengan kaki yang panjang. Kaki, memungkinkan kita semua bergerak dari satu titik ke titik lain (walaupun di jaman sekarang, tanpa kakipun kita bisa melakukan itu). Kaki identik dengan bergerak. Gagasan berkaki, gagasan bergerak.

Aku teringat keponakanku yang baru belajar berjalan. Umurnya 9 bulan. Kami semua bilang, ia belum berjalan, masih tata-tata. Jalan tertatih-tatih, dibantu oleh orang dewasa. Sampai nanti, kakinya cukup kuat dan mampu berkoordinasi dengan baik, dan keponakanku itu bisa berjalan dengan sempurna.

Aku pikir, menulis gagasanpun melewati tahap itu. Tahap tata-tata. Harus belajar dan berlatih, terus menerus. Berlatih berargumentasi. Berlatih menulis data statistik dengan menarik. Berlatih menempatkan kutipan yang tepat. Berlatih menulis dengan gaya sendiri.

Fadjroel melatih menulis melalui tulisan orang lain yang dia ikuti berkali-kali, sampai kemudian ia menemukan style sendiri. Fadjroel membaca begitu banyak buku dan karya sastra yang kemudian mempengaruhi tulisannya. Fadjroel tidak segan menggubah judul karya sastra atau film untuk menarik perhatian penulisnya. Itu adalah gaya Fadjroel, yang sudah tentu tidak ditemukan sehari dua hari, kan?

Oya, Fadjroel membaca keras-keras tulisan yang ia buat. Ini membuat dia mengetahui apakah tulisan tersebut perlu diperbaiki atau tidak, enak dibaca atau masih harus diperbaiki. Sayangnya, aku saat ini ada di kantor, kalau aku harus membaca tulisan ini keras-keras, teman-teman satu ruanganku akan dengan senang hati menimpuki aku dengan apapun supaya aku diam.

Kalau kamu, bagaimana kamu menentukan tulisanmu masih harus diperbaiki atau sudah selesai dan bisa dipergunakan sebagai alat untuk mengubah?

3 Comments

  • Tulisan adalah aktualisasi pikiran. Pikiran adalah perumus kenyataan. Jika tulisan tidak untuk mengubah, lantas untuk apa? Tanpa tulisan peradaban mau tidak mau akan terus berubah. Itu sudah dialektika alam. Tapi, dengan tulisan kita bisa mempercepat perubahan. Dan itulah tugas manusia. Namun, jangan sampai lupa, tulisan dan perubahan tidak akan ada artinya apa-apa jika kita tidak memiliki pijakan jelas dan keberpihakan yang tegas. Jika itu diabaikan, maka kita hanya akan jadi budak jaman yang membebek pada kekuasaan yang dominan.

  • tidak semua perlu jadi seperti fadjroel. biarkan saja fadjroel dengan tujuannya sendiri. sayapun memiliki tujuan sendiri saat menulis. hidup sudah cukup berat. kenapa juga lebih diperberat. tulis saja seenaknya.hehehe

  • menulis hal-hal kecil dan sederhana juga berguna, tidak harus yang berat-berat. Ya kan ….. Salam kenal.


Leave a Reply