Topik tulisan, itu yang seharusnya kami presentasikan hari itu.
Di otakku, sudah ada topik-topik yang berseliweran sejak hari pertama kursus. Iya, topik-topik. Karena ada lebih dari 1 topik yang menarik buat aku, dan itu bisa berganti setiap harinya.
Sampai aku memutuskan mengirimkan email ke Andreas, curhat tentang kebingunganku. Waktu itu, aku bercerita tentang 2 topik yang paling sering nongol di kepalaku. Andreas sepakat, dua topik yang aku tawarkan itu memang berbeda satu sama lain. Masing-masing dengan daya tarik dan tantangan yang berbeda.
Di kelas, Mas Buset membuat aku menetapkan hati, untuk menulis tentang sesuatu yang sudah berakhir, sudah terjadi. Kalau masih berlangsung, ada kerepotan tersendiri yang ingin aku hindari saat ini.
“Aku ingin menulis tentang kiri,” begitu aku berkata, sambil deg-degan. Soalnya aku jadi teringat dengan tumpukan bacaan yang seharusnya sudah selesai aku baca. Tumpukan buku kiri yang sudah disusun menurut tingkat pengetahuan. Maksudnya dari versi dummy sampai sedikit lewat dummy. Abangku berbaik hati memilihkan buku-buku itu. Tentu saja, semua baru aku lirik, satu dua sudah aku baca, tapi itupun hanya bab-bab awal.
Aku berpikir apa konflik yang mau aku angkat. Aku tidak berminat menulis tentang berbagai kelompok kiri yang ada di Indonesia, saat ini atau di masa lalu. Aku tidak berminat membahas aliran-aliran kiri. Aku ingin menulis kiri dengan cukup ringan, dan dapat dibaca dengan santai oleh siapapun, kiri, kanan, banci kiri kanan.
Dua hari lalu, aku membaca buku yang berisi wawancara Martha Harnecker dengan Hugo Chavez (Memahami Revolusi Venezuela). Halaman pertama membuat aku terhenyak. Chavez banyak membaca. Buat aku, itu mengherankan. Maklum, aku jarang tahu tentara suka membaca. Bahkan, aku masih sering menemukan guru, dosen, peneliti yang juga tidak membaca (kecuali kepepet atau kerjaan). Walaupun buku tentang Chavez itu belum selesai aku baca, aku yakin buku membentuk seorang Chavez.
Aku jadi ingin tahu, bagaimana dengan orang-orang yang kemudian dicap atau mengaku kiri? Kok bisa ya mereka menjadi kiri? Apakah mereka membaca? Buku apa yang dibaca? Aku ingin tahu buku yang pertama mereka baca, aku ingin tahu buku terakhir yang mereka baca, aku ingin tahu buku yang paling sering mereka baca, aku ingin tahu buku yang tidak pernah mereka baca, aku ingin tahu keragaman bacaan mereka, aku ingin tahu bagaimana mereka memperoleh buku-buku yang mereka baca.
Dan, itu bukan hanya untuk orang kiri, tetapi juga mereka yang berseberangan.
Aku jadi berpikir, untuk mengambil satu peristiwa sebagai titik masuk dan pengikat. Peristiwa Ultimus, di 14 Desember 2006. Ultimus, lebih banyak dikenal sebagai toko buku murah di Kota Bandung, sebetulnya lebih dari sekedar berjualan buku. Sebuah diskusi tentang Gerakan Marxisme Internasional membuat Ultimus disegel kepolisian, dan beberapa orang harus menginap di tahanan untuk semalam. Disitu, ada orang kiri, kanan, polisi, tetangga, tukang jualan, laki-laki dan perempuan.
Aku ingin mulai dari situ. Melihat beberapa karakter yang ada di tempat itu saat itu. Mencari bacaan yang akrab dengan karakter itu. Flash back dengan mempergunakan saat-saat karakter tersebut membaca buku pertama mereka, buku kiri,buku kanan atau sekedar buku pertama sewaktu baru bisa membaca. Aku tahu, bisa jadi aku menemukan orang yang tidak pernah membaca.
Aku teringat, pada waktu peristiwa itu terjadi, ada satu buku yang baru dicetak dan siap jual. Engels tentang Kapital Marx. Beberapa orang yang membubarkan acara itu, sempat mengambil buku tersebut. Buku itu kemudian sempat terkatung-katung. Aku pikir, aku ingin mengakhiri tulisan itu dengan nasib si buku itu.
Sebetulnya sudah banyak sekali tulisan tentang peristiwa Ultimus. Bahkan di Pantau pun ada. Tulisan Yani. Aku sendiri pun menulis tentang peristiwa itu. Di blog. Tantangan untuk bisa menulis sebuah peristiwa yang ditulis di berbagai media massa dengan tetap menarik dan berbeda.
Akses ke situ bisa aku peroleh, walaupun beberapa pihak masih harus aku usahakan. Daftar nama itu, terus berkembang. Ada yang bisa bertemu langsung, ada yang harus lewat tulisan. Tidak apa-apa. Justru yang berat adalah, aku hanya punya akhir pekan untuk bisa bertemu. Itupun kalau tidak harus pergi-pergi ke luar kota seperti yang terjadi 2 minggu terakhir ini.
Langkah pertama: aku harus segera bereskan outline tulisanku (dan aku masih tetap penasaran, apa yang terjadi di kelas Hiroshima, ya?)


8 Comments
May 24, 2007 at 5:54 pm
Salut dengan gagasan dan uraian yang jauh lebih baik dibanding tulisanmu yang kukenal selama ini. Sekali lagi salut dan selamat atas kemajuannya yang pesat. Sekarang aku benar-benar tertinggal olehmu, Mei.
June 4, 2007 at 8:52 am
senang melihatmu bersemangat dan bergairah menulis! aku tak sabar ingin membaca tulisan “kiri” mu.
June 6, 2007 at 9:28 am
MTsD, makasih, juga buat inputnya, juga buat celaan yang bikin aku marah berat tapi jadi mikir!
June 6, 2007 at 9:28 am
missdayeuh…. entahlah tulisan kiri ini akan jadi berbentuk seperti apa. takut dan bingung tapi juga penasaran dan semangat menggebu
July 7, 2007 at 11:27 am
Menulis tentang kiri ada selangkah menjadi kiri, bukan dijadikan kiri oleh siapa pun. Perjalanan alam dan kehidupan sosial pada akhirnya akan bermuara ke sayap itu. Kita lihat saja…
July 20, 2007 at 5:12 am
[...] hari bersamanya praktis dihabiskan untuk berdiskusi sambil minum kopi. Semangat dia untuk menulis tentang kiri begitu menggebu-gebu. Aku senang menyaksikannya. Atas rekomendasi Andreas Harsono, dan tentu saja [...]
November 7, 2007 at 11:23 am
[...] di ruangan Pantau. Apalagi, kalau aku kaitkan dengan rencana untuk membuat satu tulisan panjang tentang kiri. Narasumber yang pernah aku wawancara saja sudah bertanya-tanya. Memalukan, [...]
August 19, 2009 at 8:21 am
Bagaimana tugas akhirnya, Bu?